Wondering that crying is so important, a short story

Aku menyebutnya lebih gamblang dengan: mudah baperan (?) Apakah fenomena ini lazim ditemui pada remaja semua generasi? atau hanya sekarang? Hmmm bisa jadi sebenarnya remaja generasi sebelumnya pun berlaku begitu. Generasiku mungkin, atau generasi sebelumku, baby boomers juga begitukah? Jika memang sejak dulu seperti itu, berarti aku saja yang too ignore sampai gak bisa mengenali perilaku dan merasakan perasaan orang lain? Wkwkwkwk Oke, baiklah di sini aku akan bercerita berdasarkan pengalaman pribadi terkait judul yang kuberi di atas, wondering about crying? Lets talk about this.

Ini sebenarnya cerita lama, kalau dihitung-hitung sekitar 6 bulan yang lalu. Tepatnya saat acara perpisahan kelas XII atau kelas akhir di madrasah tempatku mengabdi saat ini. Buat yang menyadari, kayanya aku ini punya banyak pengalaman berkesan di hari itu wkwkwk please kindly to read my blog post as well this about that day here😊 . Oke, next. Namanya juga perpisahan dong, pasti diwarnai isak tangis, penuh haru sekaligus bangga terutama bagi mereka yang menjalani 3 tahun masa sekolah yang yaaa well mungkin melelahkan atau bisa jadi sangat berkesan. Hueeeekkk~ Saling beradu air mata, berpelukan, saling maaf-maafan antar teman maupun dengan guru. Ohya, aku sudah menjadi guru sekarang. Posisiku bukan lagi yang menerima label “LULUS” atau yang mau “PERGI” tapi menjadi sosok yang melihat mereka melangkah ke dunia yang baru.

Disclaimer: buat yang belum baca ceritaku sebelumnya di sini, aku baru mengabdi selama 6 bulan-an saat itu. Belum banyak memori yang terekam bersama kelas akhir yang mau pergi itu, apalagi yang berkesan. Bahkan aku juga tidak mengajar mereka. Yaa, saat itu masih serabutan di sana wkwkwk

For your information. Aku merupakan salah satu pembina di program unggulan di madrasah ini, yang namanya kukira gak perlu kusebutkan. Setelah prosesi di AULA pondok atau yang lebih sering kita sebut sebagai GOR :p siswa-siswa kelas akhir program unggulan ini berkumpul sendiri, merayakan salam perpisahan lanjutan bersama pembina-pembina mereka. Jelas, termasuk aku di sini. 4 pembina duduk di depan, para siswa ini duduk menghadap kami sambil duduk bersila sambil menunduk dalam. Air matanya masih belum berhenti. Matanya hampir semua bengkak. Dalam hati aku tersenyum, bukan aku psikopat yaa senang melihat tangis orang lain. Cumaaaaa aku ini serasa melihat diriku sendiri 4 tahun silam berada di posisi mereka mencoba menyeka air mata perpisahan. Huhuhuhu -____-

Satu persatu pembina memberikan sambutan disertai kesan, dan tentu pesan-pesan untuk mereka. Saling berterimakasih dan juga maaf-maafan (lagi) hmmmmm. Pembina paling senior di sampingku sampai menangis, melihat anak didiknya menangis semakin kencang saat beliau mengucapkan selamat jalan. Hiiikksss. Tapi maaf, aku memang ikut terharu tapi bukan berarti air mataku harus jatuh berderai juga. Selanjutnya pembina yang sebaya denganku, yang sama barunya, yang sama juniornya walaupun lebih sneior dia beberapa bulan sih dariku. Sama. Mengucapkan selamat tinggal dan juga beberapa pesan terutama untuk mengarungi kerasnya dunia perkuliahan (buat mereka yang ingin kuliah terutama).

Taraaaaaaaa~~ tibalah saat giliranku.

Matilah kau Nyik. Mau ngomong apa lagi? Sumpah demi ALLAH saat itu memang semua pesan yang ingin aku sampaikan sudah tersampaikan semua oleh kedua rekanku tadi. Lalu, haruskah aku mengulang? Ah membuang-buang waktu bukan? Pasti juga sudah bosen mendengarnya. Untuk mengefektifkan waktu. Kugelengkan kepala sembari tersenyum tipis sambil tanganku memberikan aba-aba “Pass” LOL

Masalah selesai. Mereka sudah mulai bangkit. Satu persatu meninggalkan ruangan setelah acara kecil ini ditutup. Nampak tidak terjadi apa-apa. Benar-benar normal. Aku melanjutkan hari-hariku seperti biasa lagi.

Mungkin perlu kuulangi lagi, BIASA SAJA (lagi). 😊

1 Hari setelahnya aku mengobrol dengan teman-temanku di grup whatsapp. Entahlah lupa obrolan apa saat itu yang jelas tiba-tiba menyinggung soal acara kemarin. Salah satu temanku memberikan komentar.

“Mih, katanya dari sekian pembina cuma kamu yang gak punya hati” ceritanya lewat chat grup saat itu. Ohya panggilan akrabku buat mereka itu Mamih. Mereka teman-teman sekamarku dulu di pondok. Karena dulu aku ketua kamar jadilah aku punya julukan itu. Hehehe

Sontak seisi grup jadi heboh. Responnya sih kebanyakan tertawa dan mengejekku puas sebelum mereka bertanya kenapa aku disebut demikian?

“Muka lu judes sih Mih, pantes kalau orang ngatain ga punya ati” respon salah satu teman yang disaut oleh lainnya dengan tawaan pffftttt. Mereka, dan tentunya aku sendiri mempertanyakan ke orang pertama yang membuka cerita ini. “KOK BISA NGATAIN BEGITU?”

source: pinterest.com

Inilah penjelasannya. Ternyata setelah dirunut, alasannya dari kejadian saat perpisahan kecil kelas unggulan itu di mana aku tidak memberikan sepatah dua kata pepisahan, dan tidak meneteskan airmataku walau hanya setetes. Well, itulah alasan mereka menyebut aku tidak punya hati. LOL

Eh sebentar, kok temenku itu bisa tau si kalau aku itu sama kejadiannya? Nah ternyata temenku itu adalah sepupu dari salah satu siswa kelas yang kuceritakan di atas. Begituuu~ hehehehee sungguh sempit ya dunia. Saat sesi salam-salam(an) di GOR pun dengan seluruh siswa akhir madrasah aku gak menangis sekalipun teman-teman guru di sampingku ikut tersedu. Aku malah denga percayay diri dan yakin untuk tersenyum lebar yang menurutku sendiri senyum paling manis yang kupunya sambil mengatakan “semangat yaa sukses terus!”. Menurut ku, dan menurut kalian “SALAHKU APAAAA?” Apakah hanya karena menangis orang dikatakan punya hati/tidak? Bahkan katanya satu kelas itu mengiyakan label “Bu Anik paling gak punya hati”. Bahkan saat tersenyum dan mengatakan smeoga sukses aku merasa melakukannya dari lubuk hatiku terdalam, sangat tulus.

Sejujurnya ini sangat konyol, aku sampai terpingkal-pingkal membaca cerita itu dan membayangkan betapa di mata mereka aku adalah sosok yang menyeramkana tanpa perasaan? Wkwkwk. Oke, let me explain what I feel sampai kemudian di otakku tidak ada perintah untuk menangis dan aku memilih untuk demikian. Lets gooooo~

  1. Aku masih guru baru di sini, 6 bulan bukan waktu yang lama untuk mengenal. Apalagi tidak setiap waktu, setiap hari bertemu mereka. Di awal-awal pengabdianku aku ditugasi untuk mengurus kelas XI atau kelas 2. Wajar menurutku aku tidak begitu kenal dengan mereka. Hanya tahu beberapa nama karena aku sempat mengurusi administrasi bimbel UTBK mereka, dan tentu buat para siswa unggulan itu aku cukup sering mengantar lomba beberapa di antara mereka. Ta-tapi, cukupkah itu untuk membentuk suatu kenangan dan kesedihan saat mau berpisah dengan mereka?
  2. Melihat orang-orang menangis saat prosesi wisuda adalah bukan hal baru. Aku sudah melihatnya beberapa kali sejak wisuda SD. Menangis karena mengenang kesalahan-kesalahan pada guru, canda tawa bersama teman dan lainnya. Seperti sudah menjadi sebuah templet acara perpisahan sekolah, menangis. Apakah sekarang aku harus menangis juga untuk sesuatu yang sudah berulang kali aku rasakan? Maaf, tapi aku memang benar-benar bosan. Lagu Ibu, terimakasih guru is overrated in graduation party. Huhuhuhu so sorrryyy~
  3. Di saat semua menangis, tidakkah lebih indah jika ada seseorang yang tegar dan tetap memberikan senyuman sambil memberikan semangat? Positive vibes is actually more need for that situation my girls~
  4. KALAU PESANKU SUDAH DIUNGKAPIN SEMUA SAMA TEMENKU KENAPA AKU HARUS MENGULANGI LAGI?

Yaudah si itu 4 alasanku. Kayanya cukup untuk memberikan penjelasan bahwa aku tidak se-psikopat itu wkwkwk. Aku masih punya hati, masih punya perasaan hanya saja, aku punya beda cara. Begituuu Nduk 😊

Duhh diinget-inget lagi lucuu sekali, tapi cerita ini justru sangat menjadi kenangan. Setidaknya menjadi mengerti bahwa anak-anak usia mereka sangat membutuhkan affection yang nyata. Bukan hanya dengan simbol-simbol. Maafkan saya ya Nak, telah menjadi guru yang tidak peka-an. Hehehe. Selamat menempuh kehidupan baru di jenjang selanjutnya. You all always be hero for yourself, be proud no matter what! 😊

Disclaimer two: Sejujurnya kata-kata “Anik gak punya hati/perasaan” aku sudah agak lupa si persisnya gimana, cuma kira-kira begitu. Yang jelas intinya itu. Kucari-cari history chat whatsapp grup untuk percakapan itu sudah gak ada -__- semoga tidak ada yang tersinggung Just for sharing okeyyy~

A short contemplation in the next post. SOON!

Keep wait please~

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *