Tentang ambisi menjadi kaya

Jika ada satu permintaan yang dijamin akan dikabulkan Tuhan, aku pasti sudah meminta “berilah aku kekayaan”.

Sudah tidak mau berpikir bahwa uang bukanlah segalanya. Kalimat clise yang salah kumengerti setelah aku beranjak dewasa. What the fucking world, it just need a lot of money to ensure the happiness. Fucked up! Tentu, jika sebuah permintaan di atas dengan mudahnya diberikan Tuhan untukku, sudah pasti aku akan membeli semua kebahagiaan orang-orang yang mengaku bahagia karena apa yang ia punya: keluarga, pekerjaan yang stabil, anak-anak lucu, rumah nyaman, tabungan hari tua, mobil, dan lainnya. Yang tanpa sadar orang-orang itu mengatakan hal yang sebaliknya mereka nikmati: Uang itu bukan segalanya, keluargalah yang paling utama untukku. It’s sound like a bunch of bullshit. I trust it! Cih! Akan aku beli yang mereka punya, dan kutinggalkan hanya keluarga mereka. Berapapun harganya, dan menunggu: “katakanlah sekali lagi, kau hanya butuh keluarga”

Sebenarnya aku tidak pernah menjalani hidup (re: serius hidup, setelah dewasa) berorientasi hanya untuk materi, uang atau bentuk kekayaan lain. Belakangan aku mulai muak dengan kenyataan bahwa banyak yang tidak bisa kulakukan hanya karena “uang”. Bahkan sekedar untuk memastikan orangtuaku sendiri mendapatkan jaminan kesehatan yang layak. Terlahir sebagai keluarga kelas menengah yang sejujurnya tidak menengah-menengah amat dan juga tidak berlatar belakang ekonomi kelas bawah juga, membuatku akhirnya sadar akan realita bahwa “semuanya membutuhkan cost yang tidak sedikit” untuk hanya sekedar memastikan aku bisa melanjutkan mimpi, juga memastikan orangtuaku tidak lagi kelelahan memikul beratnya mencari nafkah.

Aku memiliki keluarga yang utuh, bahkan keluarga besar yang utuh dan tentunya rukun. Orangtuaku sendiri seorang pekerja keras yang penghasilan utamanya didasarkan dari perputaran ekonomi pasar, alias pedagang serta mengelola sawah hasil warisan kakek nenekku dahulu yang turun temurun diwariskan kepada anak cucunya. Rumah permanen, kendaraan yang cukup dengan sepeda motor supra, dan aset satu petak kolam ikan yang selain untuk menyalurkan hobi bapakku yang suka sekali dengan “memelihara binatang” tentunya untuk menjadi supply sumber protein hewani keluarga juga sudah sangat cukup. Yaa, lumayan kadang bisa dijual kadang bisa dipancing sendiri kalau ingin makan enak (re: ikan tawar hasil pancingan sendiri) atau sekedar ingin memanjakan diri sendiri dengan memancing. It’s a simple way to life. I adore so much how my family ruined this fucking world, and I grew up in that family type. Oke, thanks so much God!

Tetapi ada yang berbeda kini, buatku. Apa aku hanya tidak cukup sabar?

Usia 23 tahun ini menjadi usia terberat sepanjang aku hidup (tertawa dalam hati). Cobaan silih berganti datang seolah-olah sangat disiapkan “inilah saatnya”, kata Tuhan. Tenang, aku masih percaya Tuhan dengan ayatnya (yang tidak bisa kuhafal ayat alqurannya) yang intinya: “Allah tidak akan menurunkan ujian di luar kemampuan hamba-Nya”. Ia menjamin setiap manusia bisa melewati itu. I trust him, tapi bolehkah aku merengek, “Ya Allah, kenapa ini sangat melelahkan?”. Selang beberapa bulan setelah aku lulus kuliah, keluarga diberikan ujian berupa penyakit ibuku. Menerima kenyataan bahwa orangtuaku sudah cukup tua saja sangat berat untukku, apalagi mengetahui ibuku sakit yang cukup serius. Ibu belum selesai pulih, bapak juga tumbang. Kini aku sadar, dua-duaya sudah renta.

Berbulan-bulan menjalani pengobatan dan terapi tidak kunjung membuahkan hasil. Uang tabungan yang sebelumnya sudah menipis untuk biaya kuliahku, makin habis dan tipis untuk biaya perawatan dan pengobatan ibu. Meski sudah 23 tahun, aku hanya anak bontot yang merasa masih ingin banyak dimanja, diberi, diperhatikan, serta di – di – di yang lain seperti sebelumnya. Perlakuan yang kudapat selama 23 tahun ke belakang sebagai anak bontot membentuk mental yang juga cukup lekat dalam diriku: anak kecil. Barulah aku dihadapkan oleh realita kesulitan yang dialami orangtuaku apalagi sejak mulai menyekolahkanku. Bahkan banting tulang habis-habisan yang orangtuaku biasa membahasakannya dengan “jor – jor an” yang artinya sangat luar biasa/tidak ada batas, hanya untuk memupuk tabungan agar bisa memberikanku pendidikan yang terbaik, yang mereka sadari itu tidak pernah murah. Thats why I want money so I can returned all of their pain of me.

Kerentanan mereka kini, barulah kusadari hasil dari memeras keringat yang diperuntukkan untukku. Kadang ingin protes kepada Tuhan, kenapa orangtuaku tidak kaya dari dulu? Sehingga aku bisa kuliah tanpa mengharuskan mereka selelah ini? Tapi, kemudian sadar, inilah hidup. Yang Tuhan sudah pastikan kepadaku pasti dapatnya seperti ini, pun kepada kedua orangtuaku itu.

23 tahun menjalani kehidupan yang selalu nyaman, dan tiba-tiba di awal usiaku 23 tahun harus menerima kenyataan itu. Orangtua tak lagi sehat semua, banyak yang harus dikeluarkan dari biaya maupun tenaga. Meski benar, ada hikmahnya. Semua ini datang saat aku sudah mulai tidak meminta jatah bulanan kembali, juga sudah tidak merantau sejauh dulu sehingga lebih banyak waktu yang bisa kucurahkan untuk menemani mereka. Mau tidak mau, dan karna terpaksa. Menjadi pekerja serabutan, freelancer yang sepi job, copy writer yang kurang laku, bahkan hanya sebagai pengabdi yang pekerjaannya seringkali disaut pautkan dengan keberkahan. Ah muak sekali rasanya dengar “Hati-hati nanti kamu gak berkah lho~”

Jika mesin waktu itu benar-benar ada, aku ingin sekali berlama-lama di usiaku SMP dan SMA di mana yang ku tahu adalah ambisi meraih mimpi. Menjadi seorang idealis mimpi, meneriakkan mimpi-mimpinya setiap hari (kusadari sekarang itu sangat cringe dan basi). Aku mulai lelah mengejar apa yang kuinginkan dulu, terlalu banyak yang dipertimbangkan, terlalu banyak bertabrakan. Terlalu banyak sampai ingin menyerah saja, meski sebentar. Tapi sayang, dunia tidak bisa mundur, atau pun berhenti sejenak untuk memberikanku waktu dan ruang untuk berpikir lebih tenang.

Kenapa harus semuanya uang?

Bahkan orang yang menasihatiku untuk tidak berorientasi kepada harta pun tidak menyadari bahwa apa yang ia nikmati adalah hasil dari privilege. Tolong, berhenti untuk meyakinkanku bahwa uang bukanlah segalanya. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu.

Aku benci dengan uang, aku juga benci tidak punya uang. HAHAHAHAHA. Aku benci mendengar suara Bapak yang cerita ikan di kolam belakang rumah sudah sedikit demi sedikit menyusut, “Bapak jual beli obat”. Pahit sekali dengernya. Mendramatisir? Tidak sama sekali, hanya aku belum terbiasa dengan kenyataan bahwa aku yang kini harus jauh lebih mengerti akan kondisi ini. Berbeda dengan dulu, saat orangtuaku lah yang selalu mengerti saat aku bilang, “pengen ini”.

Bersamaan dengan tulisan ini selesai, playlist lagu yang sedang kuputar berhenti di lagu Sam Kim yang berjudul Breath (OST It’s Okay to Not be Okay) seakan ingin memberiku energi sedikit untuk bernafas 😊 Di sela-selanya kuselipkan doa agar kedua orangtuaku kini kondisinya semakin baik, speedy recovery ~

Benda, di malam yang tenang dengan pikiran yang makin kacau.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *