Rasanya Dapat Doa Buruk Dari Murid Sendiri

Apa pengalaman paling menyakitkan selama menjadi guru?

Mungkin saya baru beberapa bulan menyandang predikat guru, meski kedengarannya saya tidak cocok dipanggil Bu Guru dan tidak pernah bercita-cita menjadi guru sekalipun. Sebuah tuntutan pengabdian yang sudah sering saya ceritakan sebelumnya di blog, membuat saya menjadi seorang guru per Oktober 2019 lalu. Menjadi guru bagi seseorang yang tidak pernah memimpikannya adalah sebuah pekerjaan yang berat. Setiap hari rasanya berat bagi saya menjalani hari-hari dikelilingi para siswa yang bergantian memanggil saya “Bu”. Hehehe.

Ingin sedikit bercerita tentang pengalaman pahit selama kurang lebih 6 bulan ini menyandang status guru, sebuah pekerjaan mulia tanpa tanda jasa. Mungkin bagi teman-teman guru (sesungguhnya) yang sudah bertahun-tahun atau puluhan tahun menjadi guru, pengalaman ini sungguh tidak ada apa-apanya. Saya yakin ini juga tidak seberapa, tapi bagi saya pengalaman ini sungguh terasa pahit.

Akhir bulan Maret lalu, sekolah tempat saya mengabdi (mengajar) menggelar acara wisuda atau perpisahan bagi kelas XII atau yang kerap kami sebut di pondok sebagai Haflah Attaudi’. Karena kondisi pandemi COVID-19 semakin mengkhawatirkan, kebijakan untuk social distancing dan physical distancing semakin digencarkan dan larangan berkumpul lebih dari 10 orang di larang. Sekolah-sekolah diliburkan, termasuk sekolah (dan pondok) kami. Haflah Attaudi’ yang seharusnya digelar saat 22 April dimajukan di tanggal 27 Maret dengan gelaran acara seada-adanya. Tanpa wali murid, tanpa banyak acara dan hanya menyuguhkan acara inti saja. Acara pun digelar dengan tertutup, tidak boleh ada dokumentasi apapun yang keluar saat hari H untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan (dibubarkan atau didenda aparat berwenang). Pengawasan pun diperketat, guru-guru yang diundang hanya segelintir: hanya para wali kelas XII dan beberapa guru yang memang tinggal di dalam pondok, termasuk saya. Semua tamu yang hadir tidak diperkenankan mengupload foto/video berkenaan dengan acara pada hari H. Pengawasan terhadap siswa pun juga dilakukan, karena tidak bisa dipungkiri ada siswa/santri yang nakal yang colong-colongan membawa handphone untuk dokumentasi mereka sendiri.

Sebagai guru BK, saya turut andil dalam pengawasan mengenai hal tersebut. Benar saja, ada siswa yang saya pergoki membawa Hp sesaat sebelum acara dimulai. Ia bersama gerombolan teman-temannya menggunakannya untuk berfoto-foto. Maklum, santri. Sekali bawa Hp jadi sedikit norak *maaf jika ada yang tersinggung but I just break it so true*. Sekali melihat, saya biarkan. Toh, saya wajarkan mungkin mereka ingin mengambil momen terakhir kali di sekolah tercinta bersama teman-temannya yang akan segera berpisah. Saya kembali masuk ke kantor, sambil menunggu timing yang tepat untuk menyita Hp milik si anak.

Para siswa bergiliran masuk ke GOR/Aula tempat acara berlangsung satu persatu sambil petugas scanning barang-barang yang siswa bawa ke dalam ruangana acara. Saya ikut berjaga di samping pintu, mengawasi selayaknya tugas guru BK. Mungkin saja dengan tampang galak saya *saya biasa dibilang galak kok meski sebenarnya sedang berekspresi biasa saja Xd*. Benar saja, Hp si anak berhasil tertangkap petugas yang kemudian diserahkan ke saya. Maka, terjadilah suatu pengalaman tak terlupakan selama 6 bulan menjadi guru.

Anak itu menghampiri saya dengan muka cemas bercampur marah karena Hp nya disita. “Saya cek dulu ya Hp nya, berapa kata sandinya?” tanya saya kepada murid saya. Tentu tidak dijawab, tapi mungkin teman sebelahnya (yang dari pagi ikut berfoto ria dengannya) keceplosan memberikan saya angka password hp nya. Berdasarkan banyak pertimbangan atas banyaknya resiko digelarnya acara hari itu, saya diberikan wewenang untuk mengecek Hp siswa barangkali ada yang sudah memposting acara tersebut di sosial medianya. Si anak yang saya beri inisial F ini menyela, mencoba merebut Hp nya dari saya. Untung saya gesit tangkis :p

“Ibu ga boleh ya Bu buka-buka Hp orang. Itu namanya privasi. Ibu tau gak?”, Ya memang F ada benarnya juga. Tapi ini lingkungan pesantren, membawa Hp pun sebuah pelanggaran.

“Terus kenapa kamu bawa Hp? Sudah tau dilarang” Jawab saya ketus *jujur saat itu saya jadi sedikit agak marah, karena F benar-benar mencoba dengan segala cara meraih tangan saya, sebagai guru saya merasa sudah tidak dihargai*

“Kan orangtua saya kesini Bu, buat jemput saya pulang”, F berdalih meski alasannya pun tidak menjawab. Apalagi setelah saya cek memang benar dia sudah foto-foto pra-acara dan mempostingnya di story whatsapp.

“Saya tau, tapi bukan berarti Hp nya bisa kamu bawa ke sekolah apalagi dibawa masuk ya”

“Ya pokoknya saya ga terima Bu, Hp saya diambil!” Nadanya sudah semakin nyolot.

“Saya cuma pinjam, saya cek barangkali kamu posting aneh-aneh, Mbak” Nada saya mulai gemetar, tanda saya mencoba menahan marah sekuat tenaga.

“Pokoknya saya ga ridho, saya gak rela, saya gak ikhlas Hp saya dicek dan diambil. Saya doakan ibu GAK SUKSES!” F mengatakannya tepat di depan wajah saya, persis! Dengan mata melotot dengan menunjukkan telunjuknya ke arah wajah saya. Bisa dibayangkan saya semarah apa, dan sakit bukan main. Saya hanya mencoba menertibkan acara sesuai protokol dari atasan. Tapi seorang siswa saya berkata demikian persisi di hadapan saya dengan suara lantangnya. Namun entah ada kekuatan darimana, saya malah tersenyum sembari kata,

“Sudah sudah, balik lagi ke barisan ya. Saya hanya pinjam. Saya juga punya Hp sendiri, nanti punyamu saya kembalikan setelah acara selesai”

Sudah tidak tau kondisi air muka saya seperti apa, rasanya ingin menangis, marah, menjambak, hingga mengeluarkan kata-kata kasar ke anaknya. Tapi saya masih dianugrahi kesadaran diri bahwa saya ini guru di sini. Sesakit apapun harus menjadi teladan, bahwa marah itu bukan jalan yang baik. Saya mundur beberapa langkah. F pun sudah masuk ke dalam barisannya lagi. Semua mata saat itu menatapku iba *mungkin* aku tetap tersenyum, setidaknya mencoba tersenyum sekuat tenaga. Yes, Im Fine. Kataku kepada mereka dalam hati.

Saya masih berfikir, apakah sikap saya selama menyita Hp tersebut salah? Atau air muka saya yang terlanjur garang duluan sampai dibenci para murid saya?

Sampai sini, saya jadi sadar begitu memilukan dan beratnya menjadi seorang guru. Apalagi bagi saya yang tidak sabaran, egois, dan mudah tersulut emosi. Mengabdi dengan jalan mengajar seperti ini memberikan pelajaran sangat berharga untuk saya dan tentu lebih menghargai lagi profesi sebagai guru. Sekeji apapun siswa memaki, berkata kasar, atau kesalah fahaman di mata siswa yang merugikan, sang guru tetap harus memaafkan dan memberinya teladan yang baik, bahkan mendoakannya semoga kelak mereka akan sukses dan tidak melakukan hal yang sama ke orang lain, cukup gurunya saja saat itu.

Memaafkan itu sudah berat, berat sekali. Saya berulangkali bertanya, APA SALAH SAYA SAMPAI DIKUTUK TIDAK SUKSES? Perjalanan saya baru sebentar, kesuksesan saya masih jauh di pandang, haruskah sudah dapat doa jelek dari murid sendiri? Tapi pelan-pelan saya menyadari, saya jauh lebih dewasa, mestinya saya yang lebih bisa memahami perasaan marah anak-anak, perlahan saya memaafkan meski terasa sesak. Bahkan saya doakan, semoga doa tidak sukses tersebut tidak berbalik kepada F, semoga F bisa menyadari perbuatannya, dan di lain kesempatan tidak akan pernah berkata demikian kepada orang lain, apalagi kepada gurunya.

Sampai tulisan ini ditulis, saya tidak tau lagi kabarnya, melanjutkan di mana, dan bagaimana. Yang saya tau, ia dan teman-temannya pasti sedang bejuang mempersiapkan kehidupan selanjutnya setelah SMA.

Salam hangat dari guru honorer+temporer 3 tahunan 🙂

disclaimer:

Ini adalah tulisan lama, ditulis tepat setelah kejadian. Hingga tulisan ini dirilis, saya sudah lupa nama siswa yang menjadi aktor dalam kejadian itu, meskipun di atas saya menyebutkan inisialnya. Mungkin menjadi sesuatu yang patut saya syukuri karena dengan begitu saya tidak akan mengungkit kejadian ini lagi jika kami dipertemukan kembali. Meskipun yang jelas saya masih belum lupa tentang bagaimana kejadian tersebut melukai hati saya. Namun itu artinya, saya tidak membicarakan siapa dalangnya, hanya momennya saja.

Benda, 13 September 2020

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *