PATAH

Lucu sekali hidup ini~

Dulu, Bapakku pernah bilang “Pekerjaan paling baik buat perempuan itu ya guru. Masih bisa dikerjakan sembari mengurus anak-anak dan keluarga”. Selain mengindikasikan perempuan memang sebaiknya di rumah, orangtuaku rupanya ingin aku menjadi pengajar. Katanya, pekerjaan yang mulia. Dulu, aku tak merasa bahwa doktrin perempuan harus lebih sering di rumah dibanding laki-laki. Dulu belum saya kenal konsep patriarki yang mengakar kuat di keluargaku maupun lingkungan masyarakat saat itu. Aku menolak, bukan karena aku seorang feminist saat itu. Aku hanya merasa tidak bisa melihat masa depanku sendiri sebagai seorang guru. Sesimpel itu, meski orangtuaku akhirnya menerima alasan itu. Akhirnya aku berhasil meyakinkan kedua orang tuaku, aku bisa kuliah selain di jurusan pendidikan bahkan masuk ke universitas ternama di dalam negri.

Tapi dunia memang penuh kejutan dan tetap saja lucu, karena kini aku seorang guru. Setidaknya selama 3 tahun kedepan.

Katanya, guru adalah pekerjaan yang mulia. Tapi aku tidak merasa demikian, untuk diriku sendiri. Aku tidak mulia, karena aku bukan dengan sukarela menjadi sosok guru. Selain karena aku tidak suka dengan pekerjan (berat) ini. Rupanya aku menyadari bahwa hatiku tidak sesuci dan semulia itu. Menjadi guru itu berat, biar yang lain saja. Sebut saja aku guru yang dipaksa menjadi guru karena tuntutan pengabdian. Akhir 2019, hidupku mulai berubah. Ya, aku menjadi guru selama 3 tahun ke depan. Banyak yang berubah, kini aku punya panggilan Ibu di depan namaku. Kadang terdengar masih aneh di telingaku, beberapa masih suka keceplosan manggil aku Mbak. Heuheuheu memang wajah tidak bisa berbohong aku ini masih muda. :p

Sesimpel Bapakku dulu katakan, setelah menjalani perkuliahan yang berat aku jadi guru juga. Pada akhirnya aku mengalami fase patah dalam hidup. Merasa hidupku hampir berakhir karena idealisme yang tertanam semasa kuliah yang sesuai dengan bidang keilmuanku terpatahkan juga. Aku patah, merasa benar-benar gelar STP ku tidak berarti. Saat ini. Iya, masih berusaha meyakini bahwa belum sepenuhnya aku Patah dengan mimpi-mimpi dulu.

Lucu sekali hidup. Tuhan selalu memberikan kejutan yang membuat terguncang-guncang seperti sedang menaiki rollercoaster. Dibawa jatuh karena merasa salah jurusan, dibawa senang karena akhirnya menemukan kenyamanan di jurusan sendiri, merasa sudah bahagia hidup dikelilingi orang-orang dengan satu prinsip. Kemudian dibuat jatuh lagi karena harus terjun ke daerah yang bukan ranahnya. Tapi seperti yang Banda Neira gaungkan dalam lagunya

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Di mana ada musim yang menunggu? Dalam kepatahan yang berangsur-angsur pulih, lagu ini tetap menemani 🙂

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *