Jika Bukan Karena Cinta

Mengakui bahwa aku bukanlah seorang pengabdi yang baik adalah suatu hal yang tidak sulit, karena nyatanya memang seperti. Mengakui bahwa hatiku tidak besar, mudah tersulut emosi pun rasanya mudah, karena pada kenyataannya demikian. Pun, mengakui bahwa aku tidak pandai menyenangkan banyak orang juga tidak berat, karana faktanya banyak yang sering merasa dikecewakan daripada disenangkan olehku.

Memasuki bulan ke-13 dalam pengabdian ini, tidak pernah aku mundur dalam bertahan, meski hanya sebatas mencoba untuk bersabar saja, setidaknya aku konsisten untuk menjaga perasaan itu. Yaa mau bagaimana lagi, satu-satunya jalan yang kupunya. Pengecut sekali rasanya jika tidak mengakui kenikmatan-kenikmatan yang harus kusyukuri selama mengabdi, tetapi naif juga jika tidak mengatakan bahwa aku tidak baik-baik saja.

Bulan demi bulan, hari demi hari dilewati dengan berat hati, meski kadang terlupakan oleh datang perginya pekerjaan yang tidak pernah berhenti. Baik, aku bersyukur akan hal itu, setidaknya aku pelupa bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Namun, rasanya aku sedang menyimpan bom waktu yang akan meledak di 2 tahun yang akan datang. Ya, paling tidak. Namun ternyata mengakui bahwa aku baik-baik saja cukup sulit, apalagi mengakui bahwa aku bersungguh-sungguh.

Aku menuai kebingungan, pada diri sendiri terlebih pada nasib yang kutimpa ini. Kedatangan yang kufikir akan membuat bangga dan bahagia mereka, rasanya pupus juga, aku bukan orang yang mereka cari (ya sepertinya). Aku menerima, lagi-lagi dengan caraku bertahan. Yaa setidaknya bom ku tidak meledak secepat itu, kuulur terus waktunya bahkan kalaupun bisa akan kumatikan secepat mungkin saja.

Lambat laun, seiring berjalannya waktu yang terhitung lambat, aku mulai memahami cara kerjanya. Aku mulai bisa membaca pola, dan bahkan bisa menangkis beberapa terpaan. Aku mencari cara lain agar lebih merasa berguna, pun aku juga banyak menenangkan hati agar tak muncul kembali putus asa. Sesekali terkagum-kagum pada mereka yang menaruh hati sebesar-besarnya.

Jika bukan karena cinta, aku mungkin sudah meledak. Bom itu tidak cukup menahan kemunafikan yang kurawat bahkan kupupuk subur. Jika bukan karena cinta, yang tidak pernah bisa kujelaskan ini, aku mungkin sudah terlepas. Dari jiwa-jiwa yang menurut mereka terberkati. Satu alasan yang pasti, cinta memang tidak beralasan. Tidak jarang aku memilih menahan lapar, kantuk, maupun tahan emosi karena tidak lain dengan alasan cinta.

Jika sudah seperti ini, akan sangat tidak adil ketika masih saja ada suara-suara berbisik di belakang telingaku “kamu tidak bersungguh-sungguh”. Hahahaa aku tertawa getir.

Lantas, apalagi yang harus kuberikan dan kukorbankan untuk sekedar mendapatkan pengakuan “kamu sudah berusaha, Nik”

Pada akhirnya jika bukan diri sendiri yang mengatakannya, maka siapa lagi?

Tetaplah menjaga kewarasan, Nyik. Karena jalan masih terlihat panjang dan terjal~

Nasihatku kepada diri sendiri, sambil menyeringai tipis 😊

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *