Skip to content →

How KDRAMA heal myself through the alldaylong

Kira-kira sudah menjadi seorang penggemar drama korea dan penggemar musik korea sejak kelas 1 SMP. Berarti saat itu tahun 2009/2010. Katakanlah dimulai tahun 2010, berarti sudah 10 tahun ini saya menjadi seorang fans negara ginseng, WOW juga ya. Saat itu dunia per-korea-an lagi hype hype nya di sekolah saya sejak munculnya drama Boys Before Flowers yang menjadi remake versi Korea dari serial Meteor Garden asal Taiwan. Munculnya Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Bum, dan Kim Joon sebagai F4 (Flowers 4) Korea menjadi topik yang selalu diperbincangkan di sekolah, hampir semua cewe-cewe mengikuti serial TV yang ditayangkan di Indosiar tersebut. Menyusul ada Dream High Season 1 yang memunculkan para aktor-aktor pendatang baru saat itu (sekarang sudah jadi mega star aktor Korea), sebut saja: Kim Soo Hyun, Bae Suzy, Ok Tacyeon, Lee Ji Eun (IU) dan Wooyoung. Saat itu Suzy merupakan member girlgroup Miss A, Taecyeon dan Wooyoung tergabung dalam boygroup 2PM yang berada pada satu agensi yang sama yaitu JYP Entertainment (namun akhirnya Miss A bubar dan Suzy berpindah agensi ke SOOP Management bersama uri ahjushi kecintaan kita bersama, Gong Yoo).

Rasanya bangga juga si, dulu saya menonton serial TV yang beberapa di antara mereka baru saja memulai karir debutnya sebagai aktor. Dan sekarang saya menyaksikan mereka tumbuh menjadi megastar dan menguasai per-drama maupun per-film-an Korea. Hahahahaha. Dua drama yang begitu berkesan di mata saya adalah BBF dan Dream High tadi. Dari segi cerita, konflik yang dibangun, akting pemain, dan soundtrack pengisi benar-benar banyak memberikan saya kenangan masa lalu yang indah (((anjjaayy))). Apalagi dalam circle pertemanan saya selama SMP pun semua membicarakan drama yang sama, saling tukar cerita dan emosi tentang drama korea. Hahaha.

Tahun-tahun berlalu, masa-masa remaja saya ditemani oleh drama-drama korea. Selain ada BBF dan Dreamhigh, ada juga City Hunter, Hearstring, You Are Beautiful, Lie To Me, You Are my Destiny, Bread Love and Dream, I Hear your voice, Pinocchio, dan masih banyak lagi. Rasanya tidak terlalu berlebihan jika Drama Korea membuat imajinasi saya semakin berkembang. Menonton adalah salah satu hobi yang paling menyenangkan. Selain terhibur, kita bisa menambah banyak pengetahuan meski pengetahuan kecil hingga perspektif lain dari sebuah cerita. Kita juga bisa memahami bagaimana budaya korea begitu masivnya memberikan imaji yang menggiurkan di mata penggemarnya. Mau tidak mau, saya tumbuh menjadi seseorang yang mengidam-idamkan hidup di negara yang selain terkenal dengan budaya dan entertainmentnya, juga dengan kualitas pendidkan no 2 se-dunia di bawah Finlandia.

Drama Korea tidak hanya menghadirkan konflik percintaan yang alay ala sinetron Indonesia. Penggarapan yang serius, cerita yang kokoh, akting para pemain yang berkualitas, ditambah soundtrack yang mendukung, dan tak kalah pula pengambilan gambar yang cantik membuat drama korea mudah mendapatkan hati para penontonnya. Kita pasti sudah sering dengar, teman atau saudara atau sekedar lewat di timeline twitter seseorang bercerita tentang bagaiamana mulanya ia bisa mengagumi drama korea dan per-sineas-an Korea. Tak sedikit di antaranya yang pada awalnya merasa alay dengar drama korea sendiri karena stigma jelek yang seringkali melekat terhadap para aktornya: OPERASI PLASTIK.

Drama Korea banyak menampilkan sisi positif terutama dalam karakter yang tangguh, tidak mudah putus asa dengan mimpi-mimpinya melalui banyak alternatif cerita. Jika orang beranggapan Drama Korea hanya dipenuhi per-bucin-an alay, maka dapat dipastikan SALAH BESAR. Sebagai pecinta drama korea, saya tidak memungkiri juga bahwa cerita yang seringkali ditawarkan adalah cerita fiktif, kisah cinta yang absurd, yang setidaknya kita tidak mungkin menemuinya di dunia nyata. Sebut saja cerita cinta si miskin dan si kaya yang saling jatuh cinta, si ganteng yang bisa jatuh cinta dengan wanita jelek hanya karena sifatnya kemudian suatu keajaiban datang ternyata si wanita punya wajah tersembunyi yang amat cantik, atau tentang alien yang turun ke bumi kemudian jatuh cinta, atau seorang malaikat maut yang diutus mencabut nyawa namun luluh hatinya dengan seorang wanita yang ia temui di dunia, atau sebut saja cerita Goblin si iblis terkutuk yang hidup 939 tahun untuk menemui pengantinnya yang berusia 19 tahun untuk mencabut kutukannya dan lain sebagainya. Semua cerita yang ditawarkan sangat irasional, sangat aneh, dan kadang benar-benar di luar fikiran manusia normal. Namun, di balik kisah percintaan yang absurd, drama korea selalu meyisipkan pesan perjuangan meraih mimpi, perjuangan membela keadilan, dan masih banyak lagi. Semua itu hanya cerita, kita semua tahu, cerita adalah bentuk karangan paling bebas yang pernah ada untuk manusia, dan kita tau, tidak semua yang kita lihat di serial TV bisa kita temui di dunia nyata.

Drama Korea membuat halu?

Mungkin sempat berfikir setelah menonton Goblin, “mungkinkah jodohku merupakan seorang reinkarnasi dan saat ini masih mengembara menjadi seorang malaikat maut?”

Atau seperti “Mungkinkah suatu hari aku juga bertemu dengan seorang anak kaya raya putra tunggal dari orang terkaya nomor 1 di Indonesia lalu menjemputku bagai Cinderella?”

Drama Korea layaknya sebuah serial TV dan cerita telenovela pada umumnya, tujuannya hanya menghibur meski penulis pasti juga punya keinginan menyisipkan pesan-pesan moral yang menurutnya penting. Apa bedanya jika para haters Drama Korea membenci drakor tapi ia menikmati dan mengagumi para pemain serial FIRENDS?

Drama Korea is all about preference. Sama seperti kita hanya ingin menonton film Jepang atau anime, atau hanya suka cerita-cerita film barat/Hollywood dengan genre sci-fiction, atau di antara kita bahkan ada juga yang hanya suka menikmati film-film romantis India. Bagi saya drama korea tidak hanya sekedar serial. Ia menyembuhkan kesepian, membunuh kebosanan, dan memberikan banyak inspirasi untuk bangkit dari keterpurukan. Drama korea sudah seperti teman bagi saya. Sesuai judul yang saya berikan, How KDRAMA heal myself through the alldaylong. Saat berada dalam fase terpuruk dalam hidup, drama korea mampu hadir memberikan hiburan yang menyenangkan, menyuntikkan energi lewat akting para pemain, setidaknya melupakan sejenak bagaiamana tekanan perkuliahan saat itu hampir membuat meledak.

Saat masa-masa terberat selama kuliah, yaitu fase melewati skripsi, saya mengalami banyak tekanan berat. Uji laboratorium yang berulang kali gagal, biaya penelitian kurang, alat rusak, atau kebuntuan dalam memahami jurnal dan mencari solusi dari masalah penelitian.  Ini hampir dirasakan oleh semua mahasiswa tingkat akhir. Tidak banyak dari teman-teman yang kemudian puasa dari hiburan-hiburan yang dianggap melalaikan seperti menonton. Saya sebaliknya. Tidak sedikit yang kemudian menyangsikan kesibukan saya melakukan penelitian dengan pertanyaan:
“Anik kok selo banget ya ngerjain skripsianya. Tapi kok tiba-tiba jadi yang pertama ujian proposal?”
“Anik kapan si kamu ngerjain skripsinya? Kok tiap hari updatenya drama mulu”

One thing important is, aku tidak begitu suka update kegiatan skripsiku seperti menunggu dosen, melakukan pengujian di lab, membaca jurnal, atau sampai lembur di lab di sebuah story instagram atau whatsapp. Bagi saya, selama jeda menunggu dosen, atau menunggu sampel yang diuji di laboratorium, saya harus merileks-kan otak saya, membiarkannya istirahat sebentar. Yang saya lakukan ya dengan menonton drama. Hal itu yang kemudian barangkali menjadikan otak saya selamat tidak mati stress karena tidak sempat menikmati hiburan yang saya suka. Yes, I believe that KDRAMA heal myself through the alldaylong. Bahkan samapi saat ini. Sampai kapanpun drama korea akan menjadi obat sekaligus dopping, untuk saya dalam mengarungi segala lika-liku kehidupan yang tak kalah absurdnya dengan cerita drama korea. #halah apaan si 😀

Begitulah cerita saya dengan drama korea. Hehehe~

Facebook Comments

Published in Anyik's Notes

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *