Critical thinking and science based for me

Critical thinking menjadi topik yang sering dibicarakan belakangan ini, yang kemudian ramai orang-orang percaya bahwa critical thingking merupakan skill yang penting untuk mengarungi pertarungan di abad 21. Jika diartikan secara harfiah, critical thingking berarti berfikir kritis. Apa itu kritis? Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, yang pertama terlintas di kepala saya itu pemikiran yang out of the box atau tidak biasa atau antimainstream. Tapi jawaban saya tentu belum pasti benar. Itu hanya sebuah gambaran ketika kata kritis dilontarkan, maka yang ada di benak saya yaa kata tersebut. Lalu apa sebenarnya critical thinking itu?

Critical thinking merupakan kemampuan kompleks yang terdiri dari kemampuan mengidentifikasi, mengivestigasi, menganalisis, dan mengevaluasi sebuah masalah atau situasi yang dihadapi. Kemampuan ini dipercaya sangat berpengaruh dalam kehidupan kita, baik kehidupan sehari-hari maupun berkaitan dengan pekerjaan profesional yang kita kerjakan. Karena kemampuan ini harus disertai dengan kemampuan mengidentifikasi, mengivestigasi, menganalisis, dan mengevaluasi maka kita akan lebih selektif dalam memilah informasi yang kita peroleh, atau menguraikan sebuah masalah untuk kemudian ditemukan solusinya.

Poin penting dalam manfaat critical thingking dalam kehidupan kita yaitu memengaruhi kita dalam memisahkan hal-hal relevan dan tidak relevan, mengambil kesimpulan dari beberapa informasi yang disajikan, mengidentifikasi jika-maka yang logis, mengurutkan skala prioritas dari beberapa pilihan, termasuk untuk mengenali diri sendiri dan tentu masih banyak lagi. Saya cukup menyesal baru mengenal dan belajar berfikir kritis semenjak saya kuliah, itupun karena tuntutan dan lingkungan akademis yang cukup mendukung. Selama ini kritis selalu identik dengan “memiliki banyak pertanyaan aneh” di benak saya. Bersyukurnya, saya punya trigger untuk terus merasa kritis dengan banyak membaca buku, membuka lingkungan pertemanan lebih luas, mengikuti beberapa organisasi dengan banyak karakter anggota selama saya di SMA, tepatnya di Madrasah Aliyah.

Kuliah di UGM tentunya menjadi salah satu berkat terbesar saya. Namun diterima di kampus no 1 di Indonesia saja belum cukup, perlu ketahanan otak dan mental untuk menuntaskan kewajiban di kampus yang julukannya kampus rakyat tersebut. Saya menyadari betapa sulitnya saya menyesuaikan atmosfir belajar yang begitu cepat, proses berfikir yang harus out of the box, berlomba mencari solusi suatu permasalahan di saat saya tidak punya dasar bagaimana harus menyelesaikannya. Lambat laun saya tau bahwa kuncinya memang di critical thinking tersebut.

Critical thinking sejatinya hanya sebuah bahan bakar, ia tak cukup bisa langsung untuk membuat suatu produk, ia hanya menggerakkan mesin yaitu otak kita untuk memroses sesuatu dengan cepat tentu dengan tepat pula. Bahan bakar ini menjadi saling berkaitan dengan bahan bakar lainnya seperti membaca buku, berkomunikasi hingga memvisualisasikannya dalam bentuk apapun, ide misalnya. Maka dari itu, critical thinking bukan sebuah ilmu layaknya ilmu sejarah atau biologi yangmana jika kita membacanya terus menerus maka kita akan tau banyak tentang hal itu. Bukan sekedar menghafal sebuah materi dalam beberapa bab, menghafal rumus, memecahkan soal matematis atau sekedar menemukan sebuah solusi dari suatu soal ujian. Critical thinking adalah based on thinking dalam mempelajari sesuatu. Kita tidak bisa memahami biologi jika proses berfikir selama mempelajarinya salah. Kita tidak mungkin dapat mengingat materi sejarah jika yang kita lakukan hanya sebatas “agar lulus ujian”. Seperti yang saya bilang sebelumnya, critical thinking merupakan bahan dari bahan, ia tak bisa langsung bekerja jika hanya disediakan apa adanya. Ia harus berproses secara lama dan alami. Bagaimana caranya? Jawabannya, dengan dilatih dengan waktu yang cukup lama.

Satu hal yang pasti critical thingking seharusnya menjadi salah satu pendidikan wajib yang harus dimiliki setiap warga Indonesia. Setelah saya terjun di dunia pendidikan saya semakin menyadarinya, apalagi setelah melihat, mendengar, bahkan melakukan hal-hal dalam praktek pendidikan itu sendiri. Kesadaran itu membuat saya semakin terbuka bahwa ternyata pendidikan kita tidak bisa menjadi jaminan akan menghasilkan generasi-generasi yang berfikir kritis setidaknya dalam menentukan pilihan. Akibatnya para siswa terjebak dalam situasi kebingungan jika sudah lulus dari SMA, mau kuliah atau kerja? Masa depan apa yang diinginkan? Apa alasan harus kuliah, sementara banyak sarjana juga yang masih menganggur? Saya yakin jika siswa diajari critical thinking mereka akan terbiasa dengan cara berfikir logis ketika kita harus memilih di antara banyak pilihan. Paling tidak menghindari siswa menjawab “kuliah juga gak menjamin kesuksesan Bu” ketika ditanya kenapa tidak mau kuliah. Ada lagi jawaban “kuliah itu ga penting Bu, yang penting adalah skill” seakan-akan mereka sudah bisa memastikan bahwa dunia perkuliahan tidak akan mengajarkan skill.

Tidak usah sampai melihat bagaimana siswa memandang masa depannya, hal paling mendasar seperti belajar Matematika saja mereka ragu. Tak jarang kita akan sering mendengar para siswa protes “Emangnya belajar logaritma buat apa si Bu? Di kehiduoan sehari-hari juga tidak dipakai”. Well, itu adalah pertanda. Baik atau buruk? Hehehe, mari kita jawab masing-masing. Saya menyadari betapa sulitnya saya mengajarkan siswa untuk memilih alasan yang logis jika diberikan pertanyaan “mengapa” tidak jarang mereka menjawab dengan “pokoknya, Bu” atau kalimat sejenisnya.

Kita sering mendengar bahwa kualitas pendidikan kita terbilang rendah di banding negara-negara asia lainnya. Di ASEAN sendiri kita berada di peringkat 6 dari 9 negara. Untuk ujian PISA kita jauh tertinggal skornya untuk aspek kemampuan literasi, dan matematis dari negara-negara tetangga. Itupun yang dijadikan sampel adalah siswa-siswa dari kota-kota besar yang akses pendidikannya terbilang cukup mudah. Bagaimana dengan yang di pelosok desa? Pemerataan atau aksesibilitas saja kita tidak bisa menjamin, bahkan masih menjadi persoalan besar bagi pendidikan, apalagi menyamakan tingkat kemampuan? Sungguh tidak masuk akal.

Critical thinking dibangun dari membaca buku, menulis, menonton film, berdiskusi, bahkan berdebat, dan masih banyak cara lainnya. Untuk memenuhi itu semua, kita perlu akses dan SDM yang menunjang. Banyak siswa yang terjebak dalam tuntutan akademis yang tinggi, para guru pun banyak yang enggan untuk berbenah dan melakukan inovasi dalam mengajar. Saya katakan banyak ya meski tidak semua. Tapi  gurupun tak sepenuhnya salah, bagaimana mau memikirkan pengajaran yang inovatif dan adaptif terhadap siswa-siswa zaman ini jika kesejahteraan saja masih menjadi impian.

Selanjutnya setelah critical thinking, kita perlu mempertanyakan pendidikan kita dalam membangun science based atau pondasi berfikir ilmiah. Saat ini tidak bisa dipungkiri stigma “science” dan ilmiah hanya mengacu pada mereka dengan jurusan IPA, seakan-akan anak-anak IPS tidak perlu belajar dengan cara ilmiah. Lha wong yang basic belajarnay IPA saja seringkali masih menyingkirkan metode ilmiah dalam proses berfikir, apalagi yang menganggap itu tidak penting? Inilah yang menjadi salah satu bukti bahwa pembagian kelas IPA maupun IPS di Indonesia menjadi tidak efektif. Terlebih stigma yang melekat pada kelas IPS adalah “anak nakal”, “materi hafalan”, “tidak suka hitungan”, dll. Sedangkan anak IPA adalah “kutu buku”, “suka hitungan”, “anak kuper”, “anak alim”. Padahal nih padahal, ketika kuliahpun jurusan yang dianggap IPS banget pun penuh dengan matematika, seperti akuntansi dan ekonomi. Bahkan semua jurusan pun harus belajar soal statistika penelitian sebagai syarat mengambil penelitian untuk tugas akhir/skripsi.

Seringkali saya menggunakan argumen tentang rokok untuk menjelaskan science based thinking. Kita tahu bahwa merokok itu berbahaya dan tidak sehat. Tapi apa semua orang langsung berhenti merokok ketika mendengar fakta itu? Bahkan tidak jarang para perokok aktif ini berdalih dengan pernyataan “merokok atau tidak juga pasti akan mati”, “Bisa jadi kamu yang tidak merokok bisa mati duluan dibanding saya yang merokok”, atau “Kakek saya aktif merokok sejak muda bisa panjang umur sampai usia 90 tahun”. Sebagai orang yang tidak merokok, pasti kamu akan geram mendengar jawaban seperti itu ketika menasihati seorang kawan yang merokok.

Mari kita bahas,

“merokok atau tidak juga pasti akan mati”. Oke, jadi begini yang dibahas oleh para ahli kesehatan bukan kematian disebabkan oleh merokok, ataupun manfikan adanya penyakit-penyakit lain yang bisa juga menyebabkan kematian, melainkan fakta bahwa merokok dapat menurunkan angka harapan hidup. Hidup memang misteri, kita tidak bisa memastikan seseorang memiliki umur hingga berapa tahun, yang para ahli lakukan adalah melakukan permodelan dan perkiraan harapan hidup seseorang jika selama hidupnya mengkonsumsi rokok. Jadi menurut statistik seseorang akan memiliki harapan hidup yang lebih kecil jika dia mengkonsumsi rokok, bukan merokok pasti membuat mati. Jika science based dalam critical thinking tidak kita terapkan dalam mengambil informasi, bisa salah persepsi yang fatal kan? Akibatnya kita jadi tidak mau percyaa dengan fakta bahwa merokok itu mengurangi kualitas kesehatan.

“Bisa jadi kamu yang merokok bisa mati duluan dibanding saya yang merokok”. Sekilas kalimat ini ada benarnya, mengingat kematian merupakan sebuah misteri ilahi. Namun jika dijadikan alasan jelas tidak nyambung, karena argumen yang pertama kita bangun adalah “merokok itu berbahaya dan tidak sehat”. Apakah kamu bisa memastikan berapa manusia di dunia ini yang mati duluan dibanding yang merokok? Apakah kita bisa membandingkan manusia yang meninggal bukan karena tidak sehat dibanding dengan yang meninggal karena kesehatan menurun? Si pemberi argumen ini pasti hanya mengambil satu atau dua contoh di sekitarnya. Misalnya seseorang langsung tewas di tempat kejadian setelah mengalami kecelakaan. Penyebab kematiannya pasti bukan karena merokok atau penyakit turunannya, melainkan karena pendarahan hebat pada otak misalnya. Jelas dong, argumen ini tidak bisa digeneralisasikan untuk semua kasus meninggal yang disebabkan oleh penyakit turunan merokok.

“Kakek saya aktif merokok sejak muda bisa panjang umur sampai usia 90 tahun” untuk yang ini sudah jelas, apakah 1 kakekmu bisa dijadikan alasan atau bukti yang kuat untuk milyaran manusia di muka bumi ini?

Itulah beberapa contoh sesat fikir yang biasa kita temui. Kita akan terus menghadapi kegagalan berfikir logis seperti contoh di atas jika critical thinking dan science based tidak menjadi penting dalam pendidikan kita.

Are you satisfied with our educational system right now? Silakan dijawab sendiri J

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *