Anyik's Notes, sajak

Suatu Hari Di Kehidupanku

Suatu hari, pandanganku jatuh dipara keteduhan dan kesahajaan. Suatu hari, aku jatuh lagi. Sampai di saat ada bayangan salah satu dari keteduhan itu yang terus muncul. Suatu hari, tempat itu bagai tak berujung. Aku mencari sesuatu, terus mencari sesuatu. Yang kusebut NAMA. Ya aku hanya mencari nama dari keteduhan – keteduhan yangmembayang itu. Suatu hari(lagi) aku bertanya, satu dua sampai maksimal tiga orang kutanya. NIHIL. Kemudian aku mulai resah, aku ingin tapi ternyata ada batuan besar yang menjadi benteng untuk hanya dapat mengenalnya. Aku menyerah sajalah, batinku saat itu.

Suatu hari di kehidupanku, aku baru pernah merasa sepenasaran itu. Kubilang itu romantis. Meski agak klise. Suatu hari hingga kuputuskan untuk diam saja. Ada yang lebih baik yang bahkan menungguku untuk menyelesaikannya. Aku terus diam, hingga aku lupa. Aku melupakan diri. Aku menulikan diri. Aku membutakan diri, aku menenggelamkan diri dengan banyak kesibukan. Bahkan aku tak pernah melihat keteduhan itu lagi setelah dulu. Baik, aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu disesali. Begitu fikirku dulu.

Suatu hari, terus suatu hari, sampai setiap hari aku berdoa, aku meminta, hanya untuk tau tentang NAMA. aku tidak meminta lebih. dan pada akhirnya, Suatu hari,  aku menemukan sebuah NAMA.  Tepatnya aku melihat wajah, dalam bingkai capaian prestasi. Selanjutnya, wajah itu menstimuluskan hatiku untuk berdetak kencang sekali. Kencang sekali. Bukan karena aku jantungan, tapi karena aku terlalu bahagia. Mungkin jika dulu aku sudah mengerti, itu yang kusebut rindu. Kemudian adrenalinku terpacu untuk kemudian bertanya kepada yang lain, Siapa dia? Siapa namanya?

DEGH

Aku hampir gila karena tanpa sadar kujelaskan pada semua orang yang ada di sampingku waktu itu, bahwa aku sangat rindu dengan wajah teduh itu. Gila. Aku memang gila saat itu. Oh, Tuhan, ampuni aku. Dua sampai tiga detik setelahnya tawa bergantian menyambut penjelasanku. Tawa renyah bercampur heran dengan komposisi yang pas sekali. Ya, karena aku tidak terbiasa untuk memulai.

Benarkah ini aku?

Suatu hari lagi. Esok, esok, esoknya, ketika NAMA sudah kukantong. Setiap pagi nama itu aku sapa. Aku doakan semangatnya. Aku doakan muroja’ahnya.

Suatu hari, terus smpai setiap hari di kehidupanku, sampai saat ini, aku terus mendoakannya untuk suatu hal yang luar biasa terbaiknya untukku juga untuknya. Meski jarak semakin jauh. Bahkan tidak pernah ada kata saling kenal di antara kami. Jika aku benar-benar bertahan, berarti aku hebat. Jika tidak, aku memang pencundang.

Suatu hari sampai saat ini, aku masih memilih.

Bertahan dengan kerahasiaan, atau bertahan untuk mengakui mana yang sedang kubutuhkan. Yang penting, doaku : Tuhan, tolong ingatkan hati ini jika aku terlalu merindukan keteduhan itu.

 

Yogyakarta,

Kota Romantis seribu budaya,

pergantian hari yang syahdu,

26 Maret 2016

2 thoughts on “Suatu Hari Di Kehidupanku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *