Anyik's Notes, Info, Topik Pilihan

Sillaturahim Tidak Sebatas Menyambung Nyawa Keluarga: Sebuah Pesan Lebih Dalam

Disclaimer: Mungkin postingan ini akan sedikit membosankan karena isinya hanya cerita, tanpa gambar. Karena memang tidak sempat mengambil foto yang bisa mewakili cerita yang akan saya bagikan setelah ini.

And here, please listen to me, this is my story~

Sekitar dua minggu yang lalu, saya menyempatkan waktu menemui teman alumni Al Hikmah 2 saya yang datang dari Wonosobo (ke Jogja). Niat awal dia berkunjung memang untuk memeriksakan gigi dan menambalnya di salah satu klinik gigi yang cukup bergengsi di Yogyakarta. “Aku takut malpraktek Nik kalau di koas gigi, jadi milih yang udah profesional aja” Pffttt -__- kan jadi saya kesindir soalnya saya termasuk yang suka memanfaatkan fasilitas koas gigi untuk pengobatan dental yang lebih murah. Hehehe. But, its not a big problem that i mean. Singkatnya, setelah saya selesai menghadiri suatu workshop kepenulisan di UII sore itu saya langsung bertandang ke rumah salah satu teman saya (yang sama-sama alumni juga) sebagai pilihan tempat bertemu kami para alumni sore itu. Setelah melewati gang-gang tikus yang ditunjukkan oleh GPS milik Google di HP saya, akhirnya ketemu juga rumah beliau, yang selanjutnya panggil saja En (Pria/23 y.o).

Belakangan saya baru tau ternyata teman saya ini sudah pindah tempat tinggal lumayan lama setelah yang terakhir kali saya tau dia masih mengontrak di dekat kampus saya, UGM. Oke, then~ setelah dipersilakan masuk oleh dia, dan langsung menuju kamarnya (WAW GUE MASUK KAMAR COWOK GUYS WKWKWK) Yaaaa gak bahagia juga si, ini semacam merasa wonder aja karena baru pernah. Tapi, to be honest saya gak pernah berfikiran macam-macam atau berfikiran negatif akan terjadi sesuatu di antara kami. Ohya, sebelumnya di dalam kamar dia juga sudah ada temannya (yang juga temanku HAHAHA *Kaya judul sinetron indosiar ajah*). Well, kami bertiga ngobrol seadanya, menanyakan kabar, kemudian saling awkward karena tidak ada pemecah suasan lagi selain menunggu kehadiran temanku dari wonosobo tersebut. Hehehe~ sambil sedikit gurauan garing nun receh yang ditebarkan di seluruh sudut kamar . Hmm~

Tak selang beberapa menit kemudian, datanglah teman saya yang ditunggu-tunggu (Pria/21 y.o). Lets us to greeting. Berucap salam satu sama lain, menanyakan kabar dan hal klasik lain yang biasa digunakan untuk menyapa teman lama yang baru bertemu lagi. Kami akhirnya larut dalam obrolan, menanyakan bagaimana pemeriksaan giginya, biaya, sampai wajah dokter yang menangani seperti apa? Then~ aku juga cerita, dari hal-hal receh di keseharian maupun hanya menanggapi ceriwisnya mereka ngobrol. Sampai pada akhirnya muncullah pertanyaan dan permintaan dari benak saya yang berhasil saya ucapkan ke Brother En tentang pertemuan dengan salah satu Gus beberapa hari sebelum aku menanyakan ini. Bro En ini akhirnya menyinggung soal bagiamana kita para alumni tidak saling kenal, bahkan tidak punya kegiatan sama sekali. Salah satunya, pertemuan itu lahir karena kekhawatiran para Abah, Gus, dan Ning kami ikut emngawal pergerakan alumni di seluruh Indonesia maupun @Forum_Alhikmah2_Mesir (gak tau bener engga. Btw, males nge-link So gak bisa baca ig >,< terhadap isu-isu terorisme yang sekarang marak sekali dalam penyebaran doktrinnya dan terbukti sudah ada beberapa isu beberapa alumni yang sudah terjebak dalam ruang gelap jaringan terorisme. Tidak mau semakin banyak alumni yang hilang arah, pihak pesantren kemudian semakin mengeratkan gerakan ikatan alumni untuk tetap mengikat nilai-nilai kepesantrenan yang sudah ditanam saat masih di pesantren kala itu.

Ada beberpa poin yang akhirnya malam itu kami bicarakan tanpa rencana itu, salah satunya adalah “APA YANG MEMBUAT TEMAN-TEMAN ALUMNI TIDAK MAU KUMPUL”

Awalnya aku berpendapat “Kumpul tidaknya si terserah dong, apalagi kita ini sudah mahasiswa yang sudah punya pilihan hidup masing-masing. Sibuk atau tidaknya mungkin karena punya target masing-masing” Tangkasku sebagai orang yang cukup cuek dengan lingkungan sekitar. lebih tepatnya berprinsip ” Aku aku, kamu kamu” ini. (Maafkan jika memang egois -__-)

“Bukan itu Nik, masalahnya adalah bagaimana orang tersebut menempatkan kita, saudara satu alumni adalah prioritas. Soal sibuk adalah urusan masing orang. Semua orang berhak mengklaim kesibukannya masing-masing. Tapi tidak bagi prioritas. Kalau mereka tidak mau kumpul dengan kita, itu artinya kita ada di nomor sekian setelah puluhan prioritas lain di atasnya. Dan yang harus kita lawan adalah prioritas rendah terhadap kita ini”

“Ada banyak kekhawatiran ketika ada di antara alumni yang benar-benar seakan hilang dari dunia per-alumnian. Ia, dia mungkin sudah menemukan tempat yang lebih menghargai dan menganggap dirinya sebagai manusia berguna. Dan, yang paling ditakutkan adalah golongan yang menerimanya adalah golongan-golongan yang justru menjurus ke arah radikalisme dan terorisme”

Setelah debat panjang, perbincangan yang cukup intens. AKhirnya kita memutuskan sebuah kesimpulan, bahwa perilaku kita terhadap sesama merupakan salah satu bentuk paling kecil yang mungkin bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus-virus radikalisme yang sedang marak ini. Tanpa kita sadari, sikap skeptis yang muncul dari diri kita adalah awal dari pencarian golongan lain yang lebih dapat menampung aspirasinya. Sebagaimana our Prophet selalu mengingatkan bahwa sillaturahmi adalah salah satu sumber dipanjangkannya umur, keberkahan hidup, dan yang pasti jaringan atau networking yang kuat untuk nantinya dapat kita manfaatkan saat sudah bekerja (misalnya) atau kepentingan-kepentingan lain yang akan bermanfaat bagi kita semua. It called symbiosis Mutualisme.

Mulai dari sana, kemudian saya sadar betapa saya sudah sangat acuh kepada teman-teman seperjuangan dulu di Al Hikmah 2, betapa saya sudah sangat jauh memiliki keegoisan dalam hidup dan hanya mementingkan diri sendiri “Yang penting aku iku ikut kumpu, toh manfaatnya kita sendiri yang merasa” tanpa berfikiran untuk mengajak lebih banyak tangan untuk saya gandeng lebih erat dan jangan sampai lepas yang akhirnya memilih golongan radikal tersebut.

Sebuah ironi~

Then, setelah itu kemudian saya menjadi semakin bersemangat, minimal setiap ada tamu drai luar kota yang berkunjung ke Yogyakarta. saya tak punya niatan banyak, hanya temu kangen dan menyambungkan tali persadaraan. Yang belakangan baru saya ketahui, hal tersebut ternyata sebuah kebutuhan.

A Night Thought~
Love,

Anyik

Facebook Comments

Tagged , , , , , , , ,

About khusana anik

simple person :) just fun with me :D
View all posts by khusana anik →

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *