Anyik's Notes, sajak

Selamat Berjuang (Lagi)

Terkadang di dunia ini ada sesuatu yang tak perlu kau tau. Termasuk doa yang panjang menjuntai untuk kebaikanmu. Biarkan ia larut sendiri dalam malam temaram. Malam sunyi dan kau sendiri sudah ternyenyak dalam mimpi.

Ada begitu banyak kisah yang seseorang ingin tau darimu. Ia hanya berdoa, suatu hari akan ada kesempatan kau mau berbagi cerita dengannya. Ia tau pasti, iya yakin pasti, dan ia selalu percaya yang kau ceritakan adalah hal-hal baik, wejangan-wejangan para ulama, cerita-cerita filsuf dan ulama sufi.

Mungkin kau juga tidak akan pernah tau, ada seseorang yang sangat senang saat kau keluar dari penjara suci. Dengan membawa banyak prestasi, banyak ilmu, banyak kenangan bersama guru-guru. Ia sangat gembira hanya dengan melihat senyum kegembiraanmu. Senyum yang nampak semu saja. Yang nampak tak pernah tampak, yang tanpa apa-apa, kau mudah saja tersenyum.

Ia bahagia juga.

Tanpa pernah kau tau lagi, dia berdoa untuk kesuksesanmu, kelulusanmu mengejar bangku kuliah, dia juga berdoa, tempat yang kau pilih adalah tempatnya yang sekarang. Bahkan universitas yang dipilih sama seperti universitasnya sekarang. Kau sangat spesial di matanya. Kau sangat spesial, sampai-sampai diaa sering melamun, beimajinasi sendiri, membangun ornamen harapannya sendiri, suatu hari nanti dia akan dapat menemanimu pergi di kotanya sekarang. Mencari turis bersama di sepanjang jalanan Malioboro, menapaki tangga-tangga candi Borobudur dan Prambanan, memburu buku-buku di Taman Pintar sembari mengobrol banyak hal tentang sejarah keraton yang tak ada habisnya diceritakan, tentang kisah-kisah para wayang, dari Rahwana sampai Arjuna, atau berbicara tentang negara Rumania dan Rusia, tentang Jepang dan Korea, tentang Mesir dan Qatar, serta Libya.

Meskipun dia tau, kau sudah berubah. Kau sudah mengenal dunia luar yang lebih bebas dibanding sata di penjara dulu, kau mengenal banyak rasa cinta, kau mengenal lebih banyak wanita. Meskipun dia tau, kau menyimpan nama yang bukan namanya, melainkan nama orang lain. Namun, ia cukup bahagia, hidup dengan lamunannya, hidup dengan bayang-bayang yang ia buat sendiri dan dinikmati sendiri.

Dari sebuah latar belakang yang berbeda, Eropa Oriental menuju bukit Timur Tengah yang kau dambakan, ia berani. Ia berani untuk menunggumu. Dari mimpi yang berbeda, ia ingin menyatukannya denganmu. Berbagi mimpinya bersamamu. Berbagi petualangan yang lebih seru denganmu. Ia berani, jika suatu saat harus ia tinggalkan lagi. Negara impian menuju negaramu.

Selamat menempuh ujian baru. Hidup baru. Sekolah baru. Ia menitipkan salamnya untukmu. Semoga kau bahagia, tetap bahagia, tetap tersenyum tulus menghadapi dunia baru.

Dhuha mendung,

Yogyakarta, Akhir Mei 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *