Ulasan Film

Mengintip Persahabatan Ala Filosofi Kopi 2

Film yang diangkat dari cerita pendek karya Dee Lestari, Filosofi Kopi itu berhasil merebut hati masyarakat hingga munculah sekuel yang telah dinanti-nantikan kehadirannya. Setelah di tahun 2015 Filosofi Kopi perdana rilis dan sukses besar, Filosofi Kopi 2 hadir kembali masih dengan cerita persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, lika-liku bisnis, hingga keluarga dari dua orang sahabat Ben dan Jody. Jika sebuah film diulas, maka akan banyak sekali sisi yang bisa diambil dari keseluruhan ceritanya. Bahkan setiap scene pun para penulis naskah ingin menyampaikan pesan yang tersirat maupun tersurat di dalamnya. Begitu juga yang tersampaikan dari film Filosofi Kopi 2 yang sudah tayang sejak 13 Juli lalu di berbagai bioskop tanah air.

Layaknya sebuah sekuel, Filosofi Kopi 2 ini melanjutkan kisah perjalanan bisnis dua orang sahabat mendirikan sebuah kedai kopi. Latar belakang keluarga yang berbeda, tanah asal yang berbeda pula menyebabkan watak dari Ben (Chico Jerico) dan Jody (Rio Dewanto) sangat berbeda. Itulah yang ditawarkan Filosofi Kopi, dengan segala perbedaan yang nyata ada pada diri mereka, persahabatan sejati adalah jawabannya. Lewat bagaimana survive nya kedai Filosofi Kopi milik Ben dan Jody, penulis naskah rupanya ingin menyampaikan pesan penting pershabatan, kepercayaan, perjuangan dalam perjalanan sebuah bisnis, hingga percintaan. Itu semua dirangkum dalam cerita pelik antara Ben dan Jody sebagai tokoh utama.

Di Filosofi Kopi sebelumnya, bisnis mereka berdua berakhir dengan kedai kopi roadtrip yang mengelilingi Indonesia. Meski nampak lancar-lancar saja, sejatinya mereka tidak menemukan perkembangan yang cukup pesat. Bisa dibilang stagnan. Satu persatu pelayan dan barista mereka pun mengundurkan diri, beralasan ingin mengembangkan bakat lagi di lain tempat, karena sudah saatnya mereka punya kehidupan yang lebih layak dibanding hanya sebagia barista di sebuah kedai roadtrip milik Ben dan Jody tersebut. Akhirnya dengan keputusan yang diawali dengan pertengkaran antara Ben dan Jody itu kembalilah mereka ke kedai Filosofi Kopi mereka yang dulu di Melawai.

Kemudian munculah tokoh lain, Tarra yang diperankan Luna Maya mulai memasuki kehidupan mereka berdua. Tarra yang dibekali insting bisnis yang kuat, akhirnya bersedia menjadi investor untuk mendirikan Filosofi Kopi di Melawai lagi. Finally Filosofi Kopi Melawai buka kembali dan mulai menunjukkan eksistensinya sebagai tempat tongkrongan anak jaman sekarang. Yeah, Tarra datang membawa harapan. Setidaknya hari-hari Ben dan Jody lebih berwarna dengan kehadiran dia kan.

Hal yang paling menjengkelkan, yeah its just some conflict from the typewriter, but seriously itu adalah bagian yang paling menarik dari karakter Ben yang selalu ditonjolkan dalam film ini: berani, jujur, apa adanya, egois, emosian, sedikit kasar (yaa, you’ll find a fuck words from Ben, XD), ndeso, keras kepala. Ditunjukkan ketika Jody merekrut seorang Barista lulusan luar negeri bernama Brie (next, she’ll be another lead female tho) yang trully memang ahli di bidang perkopian, tapi Ben menolak itu semua dengan alasan urusan rekrut merekrut barista hanya dia yang boleh pegang. Ben marah-marah di kedai di depan para pelanggan, menyalahkan Jody, mengatai yang si Tuan Gober itu dengan sumpah serapah andalannya.  Nah, disinilah Jody sebagai sosok yang back to reality banget orangnya, ia punya alasan yang jelas kenapa melakukan tindakan-tindakan di luar Ben mau. Tapi yaaa itulah mereka, tiada hari tanpa berantem sepertinya.

Selanjutnya, Brie ini diam-diam adalah penggemarnya Ben, bahkan alasan kenapa ia mengambil konsentrasi kopi saat kuliah adalah ia selalu penasaran bagaimana kopi itu penuh filosofi seperti apa yang sering Ben katakan di setiap cangkir kopi racikannya. Diam-diam ia jatuh cinta dengan Ben meski tiap harinya ia menerima perkataan tidak menyenangkan dari seorang Ben (hey, he is so damn but trully his character is based on his charismatics).

Kehidupan mereka pokoknya munculah cinta segi empat yang sebenarnya tidak terlalu ditunjukkan. Clue-clue bahwa Tarra dan Ben yang awalnya saling suka tidak terlalu kentara juga, apalagi sosok jaimnya Jody yang diam-diam ternyata suka sama Tarra, dan Brie yang menjadi penggemar Ben. Well, sepertinya Jody pun lebih duluan suka dengan Brie saat ia memilihnya sebagai barista baru. Walaupun pada akhirnya sebuah kejadian yang menyangkut ayahnya Ben itu ternyata melibatkan Tarra juga, entah kenapa juga sih Ben jadi ilfeel dengan Tarra dan malah mulai nyaman dengan kehadiran Brie. I know you know what will happen soon both them~

To be honest, cerita bisnis mereka di sekuel ini tidak terlalu ditonjolkan. Menurut penulis, sisi yang lebih menarik dari sekuel ini adalah persahabatan antara Ben-Jody. Meski sangat sering bertengkar, adu mulut, sampai dengan kisah cinta dengan Brie dan Tarra, mereka tetap merindukan dan memikirkan keadaan yang lain. Di balik kata-kata kasar yang sering mereka lontarkan, sumpah serapah yang mudah sekali mereka adukan, nyatanya sahabat tetaplah sahabat. Sudah sepantasnya tidak runtuh hanya karena masalah uang, keluarga, apalagi perempuan. Mungkin ini sebenarnya yang ingin disampaikan sang penulis naskah, pershabatan lebih penting dari apapun, berharga dan bermakna sampai masing-masing tak apa-apa lagi. Jika memang sahabat, ia akan kembali.

Selamat bersahabat, bagaimana Filosofi Kopi 2 mu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *