Anyik's Notes, sajak

Cerita Pagi, Cerita Aroma Kopi

“Kopi selalu menyimpan banyak cerita”

Tiba – tiba aku menyeletuk saat aku dan seoarang teman (kebetulan lebih tua) sedang sarapan pagi ini. Tentunya dengan kopi pula. Terdengar suara renyah tawa sebagai balasan. Mungkin maksudnya kenapa aku tiba – tiba berkata demikian. Entah bagaimana sebenarnya, kenapa sampai aku menyoal kopi kepada yang tidak suka kopi.

“Karena kopi selalu menyimpan filosofi”

Aku memberikan statement lagi. Hahaha. Dalam hati aku tertawa. Gila ya, kopi yang sedang jadi teman sarapanku ini memang menghipnotis. Sampai – sampai aku masih saja menyoal kopi di hadapannya. Orang di hadapanku ini kembali tertawa, namun dengan frekuensi yang lebih rendah. Heuheu. Seperti mendesis namun masih terdengar aksen gelak tawanya. Aku tau, karena aku melihat wajahnya.

Pagi ini, aku sarapan ditemani kopi lagi. Setiap hari memang kopi, dan Yogyakarta, entah kenapa menjadi sangat romantis bagiku dengan Kopi dan angkringannya. Kopi sudah bukan lagi sebagai penahan kantuk, ia layaknya teman sedih. Teman diam. Teman merenung. Teman menganggur. Namun akhir – akhir ini kopi kujadikan pula sebagai doping semangat dan kebugaranku. Mungkin kafein yang ada pada kopi sudah menjadi darah daging dalam tubuhku, sampai – sampai kopi seakan – akan menjadi kebutuhan.

Kopi menyimpan cerita, kopi menyimpan kenangan.

Jika kalian pernah membaca buku Filosofi Kopi (Dee) atau bahkan pernah menonton filmnya, maka kalian akan merasakan bagaimana kopi telah banyak memengaruhi seseorang.

Aku juga bukan termasuk penggila kopi,fanatik kopi atau sebagainya. Aku hanya penyuka. Jenis kopi apapun aku suka. Aku bukan orang yang suka berjelajah mencari kopi – kopi daerah, seperti yang dikisahkan Dee dalam Filosofi Kopi nya. Bukan aku itu. Lagiyan, selera lidahku memang rendah. Aku tidak bisa membedakan mana yang enan dan mana yang kurang enak dari satu bahan yang sama, misalnya dalam hal inimkopi. Buatku, yang terpenting adalah KOPI. Heuheuheu.

Mungkin akan lebih cocok dengan Rokok ya yang namanya Kopi itu.

NO NO NO

Aku masih normal, aku masih wanita yang punya akal. aku tidak sebodoh itu mengorbankan kesehatan hanya demi nafsu memenuhi kenikmatan kopi dan rokok.

Dalam hati aku tertawa kencang, sampai menyumbul pada sela – sela bibirku mendengar hatiku sendiri melamunkan itu. Untungnya, tidak ada yang melihat.

Banyak yang berpendapat bahwa kopi itu tidak sehat. Membikin jantung berpacu lebih cepat, penyebab magg, dan sebagainya. Yang jelas, orang – orang yang mengatakan itu adalah orang yang tak suka kopi. Karena aku sendiri pernah membaca sebuah buku tentang kopi, judul dan pengarangnya lupa. mungkin lain kali akan kucari lagi di mana bukunya. Buku tersebut mengabarkan kabar gembira kepada para penikmat kopi bahwa sebenarnya kopi juga memiliki banyak khasiat. Asalkan dengan dosis yang benar.

Entah bagaimana dosisnya dalam buku tersebut tidak dijelaskan. Yang jelas lagi, itu adalah sebuah kabar yang sangat menggembirakan bagiku, tentunya juga bagi penikmat kopi lainnya.

Soal kopi adalah soal kehidupan.

Banyak karena kopi kutemukan banyak pula teman, banyak kenangan, banyak inspirasi.

Selamat Pagi mennjelang siang. Yogyakarta, 16 Maret 2016 terasa mendung yang tak cukup gelap. Salam manis pahit kopi, dari kampus yang katanya Kerakyatan, UGM. Salam manis pahit kehidupan.

Regards,

Nyik

Facebook Comments

Tagged , , ,

About khusana anik

simple person :) just fun with me :D
View all posts by khusana anik →

Leave a Reply

2 thoughts on “Cerita Pagi, Cerita Aroma Kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *