28
Okt

Andakah Sumpah Pemuda 2015?

Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 silam telah menjadi tonggak momentum kebangkitan pemuda nasional dalam usaha membangun bangsa dengan semangat patriotisme tinggi. Keikhlasan yang mendalam, berjuang tanpa uang, bahkan jikalau mati tak minta tuk dihargai. Kini, umur sumpah itu telah 87 tahun, telah 87 kali pula diperingati sebagai moment kebangkitan para pemuda.

Ada pemuda yang simpatik, yang mengaku dirinya aktivis lalu membuat sebuah gerakan atau acara dalam memeringatinya, dengan mengadakan diskusi kepemudaan lah, pawai lah, seminar lah, lomba – lomba inovatif lah dan banyak lainnya. Ada juga yang apatis. Masa bodoh dengan hari 28 Oktober atau bahkan lupa hari apa itu? Yang baru ingat saat melihat gerombolan anak SD berlari penuh perlombaan menuju lapangan atau alun – alun kecamatan untuk ikut serta merayakan Hari Sumpah Pemuda.

Macam — macam pemuda Indonesia ini. Bahkan ada yang berlonba – lomba memasang foto sumpah pemuda di semua akun media sosialnya dengan hastag yang bermacam – macam, menuliskan banyak caption bijak tentang harapan pemuda terhadap bangsa. Dan inilah yang terjadi sekarang, tak berbeda dengan perayaan Hari Santri 22 Oktober lalu.

Lalu, bagaimanakah sebenarnya esensi dari Sumpah Pemuda tahun ini? Apa cukup dengam meramaikannya di akun medsos? Atau cukup dengan mengikuti upacara bendera? Tetapi setelahnya kita sebagai pemuda kembali bermalas – malasan, menghabiskan waktunya dengan gadget dan pacarnya, atau yang paling parah menghabiskan sisa hidupnya dengan menghujat banyak tindakan pemerintah tanpa menawarkan solusi. Bangga memamerkan barang importnya sementara di sisi lain selalu menghujat pemerintah kenapa dollar semakin naik. Ada juga yang menghina para pedagang kecil karena menawarkan barang dagangan dianggapnya terlalu mahal, namun tiba – tiba di lain waktunia dengan mudah mengeluarkan isi kantong hanya untuk buah import sementara dia selalu mengumbar rasa ibanya terhadap para pedagang kecil di media sosial. Iya, sekarang penyakit pemuda Indonesia seperti itu. Iya, ini penyakit kami.

Padahal, ada banyak yang perlu direnungkan saat hari hari Nasional seperti Sumpah Pemuda saat ini. Sebagai pemuda, sebagai penerus bangsa yang seharusnya merealisasikan sumpah – sumpah 87 silam. Sumpah yang mengaku bertanah air satu tanah air Indonesia, sumbah yang mengaku berbangsa satu, Indonesia, sumpah menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Namun, nyatanya banyak pemuda yang lebih bangga belajar bahasa asing. merasa hebat dengan menguasai 5 bahasa asing. Namun berkomunikasi dengan para dosennya, orang tua, dengan bahsa Indonesia yang baik dan benar saja tidak bisa.

Kemanakah semangat bersumpahnya dulu? Rasanya, jiwa kami para pemuda sudah diracuni dengan mainstream kebaratan, mainstream media sosial yang penuh kebohongan, mengedepankan keegoisan, mencari – cari kesalahan, bangga dengan kehidupan hedonism, dan banyak lagi.

Akan dibawa kemanakah sumpah 87 yang lalu?

Andakah pemuda 2015 yang mau berjuang untuk Indonesia?

Mari, saya, anda, kalian, kita, pemuda Indonesia berjanjilah untuk Indonesia.

 

Salam Pemuda,

dari Kota Pelajar 28 Oktober 2015

24
Okt

Bismillah Nawaitu Hijrah Malih

Malam ini, mungkin malam terakhir sebelum aku bermalam di penjara suci lagi. Besok, doakan saja semuanya lancar, hijrah pun akan dimulai. Setelah dengan pergolatan batin yang sangat hebat. Perdebatan dengan banyak pihak, akhirnya keputusan yang sangat mulia ini kuambil. Kembali mesantren. Menjalani kehidupan ala kadarnya, susah payahnya, lelahnya, suka dukanya. Ini bukan kali pertama kali baru mau pindah ke pesantren. Bahkan dulu hijrah itu dimulai saat aku belum mengerti betul apa arti nyatri , mengabdi, keberkahan, dan lainnya tentang Continue reading

22
Okt

Hari Santri, Sebagai Refleksi Pencitraan Seorang Santri Masa Kini

Kamis, 22 Oktober 2015 tiba – tiba berubah menjadi hari bersejarah di Indonesia sekarang hingga kelak nanti. Hari ini, resmilah sudah Hari Santri Nasional pertama kalinya dirayakan. Banyak sekali euforia dari seluruh santri di negeri ini. Dari sabang, sampai Merouke, dari pelosok sampai pelosok lagi, dari belahan desa Indonesia yang entah di mana tepatnya, sampai di pusat negeri ini. Semenjak ditetapkannya 22 Oktober adalah peringatan Hari Santri Nasionl oleh Pak Presiden, Joko Widodo, semarak kebangkitan santri mulai bertebaran lewat media apapun. Koran, majalah, baik digital maupun cetak, dan yang paling gencar adalah media sosial. Ramai – ramai para pengguna Continue reading

13
Okt

Antara Sarapan Bergizi dengan Dompet Tipis

Pagi ini, Yogyakarta cerah – cerah saja seperti biasanya. Entah karena mimpi semalam yang sangat absurd, bangun – bangun perut ini jadi sangat lapar. Setelah dengan pertimbangan yang sangat matang (padahal, antara malas dengan susah bangun yang beda – beda tipis) aku putuskan mandi untuk menyegarkan fikiran dan refresh muka. Berharap setelah mandi rasa laparitu bisa dilupakan, tapi eeeeeeh ternyata semakin menyiksa. Pagi ini sebenarnya pengen mencicipi nasi goreng burjo di depan gang kos. Tapi apalah daya mengingat uang di dompet sudah benar – benar ngepress untuk seminggu ke depan menunggu kiriman -uang datang. Hiks Hikss -_- Kukubur lagi ngidam nasi goreng itu.

Sebenarnya agak frontal diceritakan, karena takut di Continue reading

12
Okt

Maha Mau Bukan Berarti Maha Tahu

Terkadang aku masih suka iri dengan teman – teman yang sekarang melanjutkan pendidikan tinggi sesuai dengan cita – citanya. Mereka tak perlu beradaptasi dengan mata kuliah baru, wacana baru, pandangan ilmu baru, setidaknya mereka hanya perlu beradaptasi dengan lingkungan dan gaya belajar di perkuliahan pada umumnya. Ada hal yang membuat iri itu kemudian jauh lebih menyayat, ketika aku sendiri merasa jauh dari rasa nyaman dengan apa yang aku geluti sekarang. Belum. Mungkin sih memang belum, tapi mungkin juga akan cukup lama. Banyak perandaian, seakan – akan mengisyaratkan ada penyesalan di sela sela nadanya. Yaaa begitulah.

Ini sudah setengah semester orde Continue reading