4
Nov

Segores Pena untuk Sahabat

Akhir-akhir ini, aku sering termenung sendiri. Lalu, aku membuka beberapa foto kita di album. Meandangnya, aku jadi ingin menangis, betapa aku telah begitu jauh dengan sahabat-sahabatku. Kadang, aku berkhayal dan sebuah dejavu tiba-tiba saja kualami. Perih. Ada rasa sesak saat aku mengingat mereka. Aku merindukan mereka. Aku ingin bertemu dengan mereka. Aku ingin dipeluk mereka, dan aku ingin melihat awan dalam senyumnya.
Aku tak pernah bedusta akan sebuah perasaan rrindu yang kian tak dapat ditepis. Ya, aku selalu merindukannya. Merindukan segala senyumnya, merindukan segala candanya, bahkan kejailannya, sekalipun itu menyakitkan. Aku merindukannya, merindukan wajah wajah jelek mereka, tawa keras mereka bahkan tidur mereka. Tuhan, biarkan aku menuliskan sesuatu di sini untuk melampiaskan segala yang kurasa saat ini, bahwa aku merindukannya, jauuhh.. jauhhh … jauhhh di dalam dasar jiwaku.
Ketika sebuah keajaiban datang menyertai malam. Ya, itulah bulan yang bradu dengan gemerlap cahaya bintang. Yang lama kelamaan akan membentuk sebuah titik-titik kecil yang saling terhubung. Indah sekali. Indah. Indah sekali. Seperti senyum mereka, senyum yang selalu kuimpikan. Di mana langit akan Nampak seperti kunang-kunang yang tumpah ruah di atas rerumputan bumi. Seperti ada sekat cermin di antara langit dan bumi.
Apakah kau melihatnya, sahabat?
Aku ingin kau tahu, seberapa Tuhan telah mempersembahkan malam yang indah. Kau tahu? Malam itu beriringan dengan perasaan rindu saat jauh dari sang sahabat. Kau. Kau. Aku ingin kau tetap tahu, saat nanti kita akan terpisah lebih jauh dari ini, saat persahabatan ini hanya akan menjadi dongeng malam anak-anak kita nanti. Tetaplah merindukanku. Dan di saat seperti ini, tataplah langit malam itu. Pilihlah bintang untuk kau tunjuk sebagai penggantiku. Bayangkan wajahku jatuh di sana. Aku akan selalu tersenyum kepadamu.
Bayangkan!
Indah bukan? Walau hanya membayangkannya.
Tahukah kau? Di saat itulah aku akan menatap satu langit yang sama. Tak usah khawatir, kita masih berpijak pada bumi yang sama. Berpayung pada awan yang sama.

Aku juga pasti akan selalu merindukanmu.