23
Okt

Rhapsody In July


Rhapsody In July
 Ini adalah FF adaptasi dari Komik favoritku, yang judulnya sama yang kutlis, karya Kze Mizuki. so, kalo kalian nemu alur yang sama, emang aku adaptasi dari komik. bukan asli dari imajinasiku. aku hanya menyumbangkan sedikit imajinasi untuk FF yang perdana aku publish ini. 🙂
-Taeyeon POV-
Kini aku melihatnya lagi. Meriahnya kontes piano olehnya. Kini aku melihatnya lagi, mendapat ribuan tepuk tangan meriah karena keajaiban permainan pianonya itu. Dia, begitu sempurna dalam hal bermain piano. Dia, adalah malaikat. Tidk  mungkin dia manusia. Takkan ada manusia sesempurna permainan pianonya. Tidak!
Apa yang aku takutkan terjadi juga. 7 juli 3 tahun lalu. Alunan itu begitu indah. Menyihir setiap saja yang mendengarkannya. Seperti lautan bintang di mataku. Selalu saja begitu. Namanya, Park Jung So atau kerap disapa Leeteuk. Ya, dia memang selalu menang dalam lomba piano yang diadakan setiap tanggal 7 juli ini. 5 tahun ini aku mengikuti kontes ini juga. Namun, selama itu pula aku tak pernah mampu berada di atasnya. Ya, tentunya dalam hal bermain piano.
Aku sadar, di banding dia, akulah pecundang. Sama sekali aku tak pernah niat untuk menjadi pianis. Aku hanya suka menyanyi. Namun, karna ayahku musisi tepatnya pianis, ibuku juga demikian, aku dipaksa bermain piano. Padahal, sama sekali aku tak pernah suka.
Kini, aku masih mematung dibalik tirai yang membatasi backstage dengan stage yang sebenarnya. Aku masih tersihir oleh alunan piano yang dimainkan oleh Park Jung so itu. Namun, gemuruh tepuk tangan tiba-tiba menyadarkanku.  Ya, mungkin Leeteuk sudah selesai mempertunjukkan kebolehannya itu. Aku segera tersadar, buru-buru sebelum namja tampan itu kembali ke backstage.
“Aku mau berhenti saja. Aku menyerah.” Gumamku sesaat aku berbalik badan untuk pergi dari tempat ini.
SRAAAKKK. Suara tirai dibuka terdengar.
“Mau berhenti?” Sebuah suara menahan langkahku. Sial, dia keburu kembali dan mendengar gumamanku. Tiddak tidak tidakk.. bagaimana ini? Aku tetap bergeming. Menulikan diri adalah salah satu cara terbaik.
“Kim Taeyeon apa kau tak mendengarku?”Panggilnya lagi. Aku harus bertahan.
“Ide bagus. Memang seharusnya begitu.ck!”Katanya melecehkan. Apa? Terpaksa aku menoleh. Sial! Aku melihatnya. Lagi. Melihat senyum licik itu. Walaupun demikian, senyum itu selalu saja dapat menyihirku, sama seperti alunan musiknya.
Aku geramm.. Rrrrrrr…. Ini benar-benar pelecehan. Dasar tidak sopan!
“Pecundang sepertimu memang tak pantas menjadi lawanku. Hah!”
Hah? Benar-benar kurang ajar! Meskipun begitu, aku masih belum bisa melawannya. Aku masih merangkai kata untuk itu. Ya, kuakui aku memang selalu bodoh dalam hal sepertii ini.
“Dasar orang bodoh!”Katanya. Lagi  dan lagi. Dia melangkahkan kakiknya untuk berlalu dari hadapanku. Ugh! Namja kurang ajar! Aku sudah tidak tahan.
“Hh! Perlu kau ingat yah! Kelak aku akan menjadi yang pertama dalam kontes ini!”tantangku.
Öh, begitu yah? Baguslah kalo begitu!”jawabnya santai sambil berlalu dari hadapanku.
Aku hanya mentap punggungnya yang telah begitu saja berlalu.  Dia memang benar, orang bodoh sepertiku takkan pernah mampu menandinginya. Seorang yang bodoh, yang bermain piano bukan karna hatinya memang takkan mendapat kemenangan. Ya, semuanya memang benar. Kau benar Leeteuk-shi. Memang beginilah aku.
Memikirkan hal itu, aku tertunduk lesu. Bahkan, untuk perlombaan tahun ini pun kukira aku akan kalah. Bukan kalah aku tdak mendapatkan sepeserpun nomor juara, namun, selalu kalah dari kehadirannya, Leeteuk.
Pengumuman juara akan segera dimulai. Sang master ceremony pun sudah bersiap memanggil nama-nama berprestasi itu. Aku masih dalam tempat yang sama. Sambil memeras tanganku sendiri. Setidaknya ini dapat meredam kegemasan terhadap kontes ini. Marah,kecewa,hampa. Semuanya telah bertumpuk menghimpitku.
Seharusnya, semua peserta sudah naik ke panggung. Termasuk aku. Tapi, lebih baik aku di sini. Daripada harus mati berdiri melihat dia akan mendapat tepuk tangan paling meriah dari penonton. Cihh!
“Juara ketiga adalah seorang pianis muda dengan lagu andalannya breathless.. Yaaa.. Lee Sang Hwa!”
Heboh seketika oleh tepuk tangan penghargaan dari masing-masing penonton. Lee Sang Hwa adalah sahabatku. Dia memang selalu meraih juara ketiga. Jadi, aku tak pernah merasa heran dengan kejuaraannya itu.
Mungkin, tanpa mendengarkan sang master ceremony mengumumkan pun, aku sudah pasti akan tahu siapa yang akan mendapat posisi dalam juara tersebut.
“dan, dan juara kedua adalah seorang dari anak musisi ternama korea dan dia adalah peserta setia dalam kontes ini. Ya, kita sambut Kim Taeyeonn.. Chukhaeyeoo!!”
Lagi. Menulikan diri akan lebiih baik. Ya, sepertinya memang akan lebih baik. Dan, aku tidak mau bersanding ddengan Leeteuk sialan itu untuk menerima hadiah dan tropi. Tidak!
Aku mulai melangkah pergi, takkan ada satupun orang yang akan memperdulikanku. Namun tiba-tiba aku ditarik oleh seseorang dan menyeretku untuk naik keatas panggung. Aku tercengang kaget dan tak mampu untuk berontak karna seseorang itu adalah Leeteuk.
SKIP!********************************************************
1 Tahun kemudian. 7 juli.
Tahun ini adalah tahun keenam di bulan juli dan tepatnya tanggal 7 juli. Aku kembali dengan kim taeyeon yang Baru. Satu tahun kekalahan. Oh, tidak! 5 tahun kekalahan berturut-turut, aku terus membenahi diri dan berlatih lagi dan lagi.
Aku datang ke tempat kontes itu biasa diadakan, tepatnya di kotaDistrik Seoul, tempat peradaban korea dimulai. Seperti biasa aku berangkat dengan sahabtku Lee Sang Hwa. Kali ini, lenggangan kakiku terasa lebih semangat dan punya rasa juang. Ini adalah permainan terakhirku sebelum aku berangkat ke amerika untuk sekolah music di sana, khususnya dalam bidang bernyanyi, sesuai dengan bakatku. Maka dari itu, aku harus menghadiahkan orangtuaku sebuah juara di kontes terahirku ini. Ya, juara pertama.
“Kira-kira Leeteuk itu akan datang tidak yah?” Tanya sang hwa memecah lamunan kemenanganku. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala yang tegas dan sorotan mata yang memperlihatkan keyakinanku.
“Soalnya, kemarin kudengar untuk kontes piano yang ke-6, dia tidak akan ikut lagi.”
Apa aku tidak salah dengar?
“MWOO?”
Dia hanya mengangguk keras sambil menatapku dan mencoba memperlihatkan sorot matnya yang benar-benar tak ada kebohongan.
“Yang benar saja?” Kataku masih tak percaya.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk yakin.
Mana bisa seperti ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Semuanya akan percuma saat kontes ini akan diadakan dan diikuti tanpa seorang pemegang tropi bertahan selama ini. Leeteuk. Hweeee!! Ini tidak boleh terjadi. Tanpa melakukan apapun dengan tidak ada kehadirannya aku pasti yang akan mendapatkan juara pertama itu.
Aku melenggang pergi meninggalkan sang hwa sendirian. Dia meneriakiku untuk tetap di tempat semula karna perlombaan akan segera di mulai. Namun, aku sudah terlanjur kalut. Leteuk tidak boleh berhenti bermain piano. Dia harus ikut, dan dia tidak boleh pergi. Dari hidupku. Oh bukan! Maksudku dari kontes ini. Kontes 7 juli ini.
Aku terus berlari meuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kontes. Aku cukup berjalan kaki dengan menambah kecepatan.
Akhirnya aku sampai di depan ruko yang cukup besar. Rumahnya tersambung langsung dengan percetakan yang cukup punya nama dalam industry di sekitar daerah distrik.  Orang tuanya dikenal sebagai pasangan pengusaha sukses dalam bidang percetakan dan distro. Distro-distronya tersebar di sekitar wilayah Gangnam dan beberapa sudah bekerja sama dengan pusat-pusat distribusi di seluruh korea selatan. Dialah pewaris tunggal grup Yeon mlik ayahnya itu. Namun, menurut cerita , dia lebih memilih music untuk ditekuni dari pada dunia bisnis yang hampir membuatnya gila.
Sebelum akhirnya dia mengikuti kontes 7 juli secara rutin, dan berbagai perlombaan bergengsi pianis muda, dia telah memperoleh gelar sarjana di bidang manajemen bisnis. Ntahlah, aku tak tau lagi tentang kelanjutan hidupnya selain keajaiban bermain pianonya itu. Ck.
Hampir saja aku akan memasuki toko itu dan tiba-tiba seorang namja tegap, ramping, tampan, menggunakan jas silver dan pantaloon yang senada itu keluar dari persembunyiannya. Namja itu adalah Park Jung So, aku lebih suka memanggilnya Leeteuk. Bukan karena artinya yang special yang membuatku lebih suka, namun nama itu sudah terlanjur kuhafal terlebih dahulu disbanding dengn nama aslinya.
Dia berjalan santai kearah timur, sedangkan aku di bagian barat rukonya. Tanpa ragu, aku mencoba meneriakinya agar dia mau mengerem kakinya itu.
“kau mau kemana? Bukankah tempat kontes itu sebelah barat dari sini?” kataku dengan nada 2 oktaf ini. Uhuk. Aku hamper tersedak.
Bingo! Dia menoleh, rambur karamelnya tersibak pelan. Omonaa~ dia tampan sekali.
“ne?”dia hanya memperlihatkan picingan matanya yang tajam. Aku melangkah maju mendekatinya, dan dia masih dalam posisi semula, hanya wajahnya yang menghadapku.
“kau harus ikut dalam kontes 7 juli itu!”bentakku. aku  bahkan seperti eomma yang kesal karena anaknya tidak mau makan. Oh! Memalukan!
“kim taeyeon ya?”
Dia membalikkan tubuhnya sempurna. Kini ia berhadapan tepat denganku. Dekat dan…
DEGH!
“Benarkah kau akn berhenti bermain piano?”tanyaku memberanikan diri. Padahal jika memang itu benar-benar terjadi, itu sama sekali bukan urusanku bukan?
“Öh, soal itu. Memang kenapa? Bukankah kau tak perlu tahu?”
Benar, ini bukan urusanku, tapi….
“Dengar ya! Gara-gara ingin menang darimu, aku berlatih ppiano dengan susah payah. Dan kau mau kabur begitu saja!”Omelku. Hyyyaa!
“menang dariku?” dia masih tenang. Beda denganku. Phhfftt. “Bodoh sekali. Hanya itu alasanmu berltih piano?”tanyanya dengan wajah yang bisa kubilang meremehkan. Cih!
“kau menghinaku lagi yaa?”
“tidak!”
“pasti kau sedang menhinaku kan? Ngaku saja!”paksaku.
“kata siapa?”
“Äku tidak percaya!”
“Aiisshh,.. sudahlah aku mau pergi! Jangan ganggu aku lagi!”
Aku menyerah, tapi ini sungguh tidak adil. Aku tidak mau ini terjadi. Aku lemas. Ntah apa yang sedang merasuki jiwaku saat ini. Aku tersungkur. Dan tanpa menyadarinya. Sedari tadi aku masih mengenakan kostum pentasku. Dress mini dengan tanpa lengan, stoking biru berjala yang glamour. Hiasan rambut yang penuh dengan pita-pita cantik. Aku tidak perduli. Aku hanya ingin leeteuk kembali. Kemari. Bermain piano. Bersamaku. Lagi.
TAP .. TAP… TAP …
“Kim Taeyeon-shi, apa kau tidak malu keluyuran dengan baju seperti itu. Menjijikkan! Nih pakai!”
Seseorang melemparkan jasnya, dan dia adalah Leeteuk. Ya, dia kembali. Kehadapanku.
DEGH!
Lagi. Tiba-tiba perasaan ini muncul kembali. Setiap aku melihat mata itu, senyum itu dan dimple itu. Semuanya melebur hatiku. Tidak mungkin!
Aku menangkap jas itu dan kembali bangun.
“gomawo.”lirihku. aku memakai jas itu pelan-pelan dengan perasaan yang ku tak mengerti. Dadaku sesak dan tanpa kusadari, air mataku jatuh perlahan. Perasaan takut kehilangan itu muncul. Aku.. aku.. aku.. takut kehilanganmu Leeteuk.
“Ya! Kenapa kau menangis?”tanyanya, ia semakin mendekat. Satu langkah lebih dekat denganku.
“Molla~”
Aku hanya ingin kau tetap bermain piano, leeteuk-shi. Aku hanya ingin itu. Dngan begitu aku akan tetap bermain piano. Selain itu…
“aku yakin, kau itu menyukai piano. Karena itulah kau berlatih keras. Benar kan?”
Aku masih saja tak mampu menjawab. Aku mengiyakan kata-katanya barusan, tapi…
Oh! Sebuah usapan halus mendarat di pipiku. Dia menghapus air mataku perlahan dengan ujung jempolnya. Dadaku semakin sesak dan aku yakin wajahku semakin memerah.
Iya, aku sangat memuja piano. Tepatnya permainan pianomu, leeteuk. Hanya itu. Dan tetaplah bermain piano. Untukku. Kumohon, jangan berhenti dan tetaplah di sini. Kaulah panutanku.
“taeyeon-ah, sebenarnya bisnis keluargaku yang berada di Busan mengalami kemerosotan. Sedangkan ayahku, sekarang sedang mengalami pengobatan intensif karena penyakitnya.” Ujarnya seperti ingin memberi penjelasan.
“lalu?”
“Apa boleh buat. Aku kan penerus keluarga. Satu-satunya.”katanya sambil tersenyum lebar. Seakan tidak ada yang akan ia tinggalkan. Pianonya. Tapi, aku tahu, di kedalaman matanya, ia menyimpan kesedihan. Sebenarnya pun ia tidak rela meninggalkan dunianya itu. Bohong! Dia selalu saja membohongi dirinya sendiri.
“Uljimayo. Aku pergi dulu yaa.”
Tidak! Kau tidak boleh pergi. Karena leeeteuk lah aku jadi mengerti keindahan piano. Dan keindahan yang dia berikan padaku. Aku menggeleng cepat mendengar dia akan segera pergi ke Busan, dan mungkin akan lama. Aku tidak mau.
“Wae?”
Aku masih menggeleng. Dan tak dapat kupungkiri, aku tidak mau 7 juli berakhir hanya sampai di sini.
“Kau masih mengaharapkan aku bermain piano?” Tanyanya. Aku tidak bisa menolak, dan sialnya aku mengangguk mengiyakan.
Melihatku seperti ini dia tersenyum tipis dan menimbulkan lesung kecil di pipinya sebagai efek senyum mautnya itu. Yang kusebut senyum malaikat. Seperti mengerti bgaiman isi hatiku sekarang yang masih belum rela jika ia benar-benar merelakan pianonya itu hanya sebagai kenangan dan cerita masa lalu. Dan, jika dia tidak mau mengikuti perlombaan 7 juli itu, berarti selamanya aku takkan pernah bertemu kembali dengannya. Pun hanya saat 7 juli itu.
Ia kembali mendekat satu langkah kepadaku. Ya! Sekarang, hanya satu jengkal saja jarak kami, dan aku hanya mampu merunduk untuk menyembunyikan wajah merahku sekarang. Bahkan, dapat kurasakan hembusan nafas hangatnya yang menyentuh ubun-ubunku. Nafas yang benar-benar hangat untukku.
“Kau tidak usah khawatir taeyeon-shi. Meskipun aku tidak akan pernah bermain piano lagi. Aku akan selalu kemari saat 7 juli nanti. Karena. Aku ingin mendengar permainan pianomu.”
Mendengarnya berkata seperti itu, aku mendongak dan kini mukaku benar-benar berada di bawahnya, karena tubuhnya lebih tinggi dariku.
“Leeteuk-ah,”
Tanpa menjawabku, tiba-tiba sentuhan hangat mendarat di bibirku. Lembut dan begitu nyaman. Ya, leeteuk menciumku tepat di bibirku. Dia berhasil mencuri ciuman pertamaku.
Leeteuk Oppa. Aku hanya ingin dia tetap ikut dalam kontes piano itu, bukan karena dialah motivator terbesarku, namun aku tidak mau melepas alunan seperti lautan bintang itu bagiku. Bahkan, aku tidak hanya ingin melihatnya saat 7 Juli di kontes piano tahunan. Tapi setiap saat, dalam jangkauan pandanganku. Setiap detik, karena dialah nafasku. Ya, aku baru saja menyadarinya saat dia akan pergi. Seperti sekarang. Pantas, jika aku dikatakan orang bodoh karena memang mengakui dan menyadari perasaan sendiri pun aku tidak bisa. Ya, aku Kim Taeyeon, yeoja bodoh. Setidaknya itu yang aku tahu sekarang.
Hey! Dia belum melepaskan ciumannya. Ini sudah sangat lama. Tapi, aku juga tidak ingin melepaskannya sama sekali. Karna, aku mencintainya. Bahkan, jika ia tetap pergi. Aku akan tetap mencintainya.
“Kim Taeyeon-ah, Saranghae”
END……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
13
Okt

Mereka

Kisah mereka adalah kisahku dengannya
cerita mereka adalah ulasan-ulasan senyumku juga
hingga mentari tak tampakkan keraguan hingga musim gugur menjemputku
mereka adalah satu sisi cermin bagiku
mereka simpul hidup yang menjeratku
mereka busur panah yang menembakku
untuk tetapkan hati dalam perjuangan
mereka jaring-jaring hidupku
mereka jaring-jaring cintaku
mereka jaring-jaring persahabatanku
mereka telah begitu dalam di hatiku
mereka adalah senyumanku
mereka selalu menjadi awan untukku
mereka adalah embun-embunku
mereka
aku sangat mencintai mereka
dan karena itu,
aku takkan pernah mau mundur
pun walau satu inchi
12
Okt

Pukulan Batu Berton-ton

Hari ini, 12 Oktober 2013 adalah catatansejarah memalukan sepanjang hidupku. ini sungguh hari yang tak pernah kuharapkan ada. Hari ini adalah gloomy saturdayku. hari ini adalah kabut hiotam dalam perjalananku.

Kau tahu my dearest fog?
Hari ini berawal dari pembagian nilai Ulangan Tengah Semesterku, khusunya Biologi. Ntahlah saat itu seakan nafasku tercekat beberapa detik. Nafasku berhenti dan jantungku tidak bekerja selama kurang lebih 2 detik. OKE! Terdengar lebay dan menjijikkan. Thats REAL.. Bagaimana aku tidak selebay itu saat aku dapati sebuah nilai dalam coretan kertas ulanganku 47,5.

Bayangkan! Aku tidak sedang main-main di sini. di tempatku belajar saat ini. aku berada di kelas unggulan sekolahku. aku berada di kelas anak-anak olimpiade yang selalu mendapatkan perlakuan sempurna dari para pihak sekolah. Aku ini siswa memalukan! Aku tidak bisa menyangka hal ini terjadi. Pukulan ini benar-benar berat aku tahan! Ini adalah nilai terjelekk sepanjang aku sekolah, sepanjang aku ada di EMERCY! kelas unggulan, kelas yang katanya cemerlang!

apa aku tidak pantas di Emercy? sebelunya aku mendapat nilai 57 di pelajaran fisika! ini benar-benar membutatku hampir mati saat ini! aku benci diriku sendiri aku benci diriku sendiri!

Sebenarnya apa yang sedang aku fikirkan ? aku punya problem apa? aku udah bikin malu guru kesayanganku hari ini! Aku berhasil emmbuat Pak Abdul Wakhid malu di rapat penurunan siswa EMERCY siang tadi!

berikut adalah komentar Pak Wakhid tentangku, guru Fisika ini mengomel habis2an kepada kelasku, tapi aku yakin aku menjadi kespesialisasian dalam hal ini. oKe, cukup mmbuat mata ini panass dan berair!

  • anik lebih baik saat di kelas 1
  • anik lebih angker!
  • tambah nyebelin, soalnya pasif dan jadi diemm!
  • masih belum bisa dipandang!
  • belum bisa dikatakan masa emas!
  • memalukan!

apa aku terlalu sombong akhir2 ini? ini cukup membuatku berfikir keras tentang sikapku akhir ini terhadap pelajaran sekolah. aku tidak mau menyalahkan organisasi-organisasiku di sekolah maupun pondokku, tapi,aku seperti harus mengkorksi diri akan sikap hati yang seakan menyepesialkan satu pelajarkan yang kuikuti sebgai anak Olimpiade Kimia. Ya, aku anak olimpiade kimia! aku mati-matian diperjuangkan di kelas olimpiade oleh Pak Wakhid yang mengaku jatuh cinta dengan kemampuan kimiaku! Ahh! ntah itu pujian sesaat atau memang beliau benar-benar menyukaiku karna hal itu. Yang jelas, aku merasa seperti beda saat aku benar-benar masuk di kelas itu , di kelas olimpiade, di kelas untuk persipan OSN mendatang!

Apa aku merasa sombong dengan keberhasilanku menaklukkan kimia?
Ah! itu amsih mnjadi pertanyaan penting untuk kujawab sendiri!
Ya, bagaimanapun juga, tanpa harus ada yang mendobrak semangatku, aku harus tampil lebih percaya dirii dengan apapun bentuk mendapatkan motivasi terbaik dalam belajar.
tidak hanya untuk KIMIA!

Semuanya memang tlah berlalu di detik ini! aku harus berlari sendiri tanpa harus ada yang memecutiku. Aku sudah dewasa dan aku harus bisa lebih besar dari mereka-mereka itu! itu kata Pak Wakhid kepadaku.