15
Mei

Lagu Rindu

Lagu ini aku persembahkan untuk ibuku tecinta. Meski bukan lagu ciptaanku sendiri, semoga nyanyianku yang kudendangkan dalam sebaris do’a dapat didengarnya sebagai isyarat rinduku yang sungguh terdalam untuknya.. Ibu, Aku mencintaimu.

Dear Mom – SNSD

 

(Oneureun waenji himdeulgo jichyeo)
Karena beberapa alasan hari ini aku lelah
(Begaereul kkeureoaneun chae honja bangane nama)
Ditinggalkan sendiri di kamarku sambil memeluk bantal
(Jeonhwagil manjijakgeorineun naui maeumi)
Menyentuh handphoneku, hatiku
(Wenji oneul ttara wiroungeojyo)
Untuk beberapa alasan kesepian hari ini
(Gabjagi ullil jeonhwae nolla)
Aku terkejut karena tiba-tiba handphoneku berbunyi 
 
(Bab meogeoneunji geokjengha eomma moksoriga)
Aku dengar suara ibu yang mengkhatirkanku, apakah sudah makan?
(Gwichanhke deullyeotdeon geu mari oneureun dareungeol)
Kata-kata yang biasanya menjengkelkan, hari ini berbeda
(Itgo isseotdeon yaksokdeuri tteoollayo)
Melupakan janji yang selalu diingat
(Maeumi yeppeun sarami dwilkeyo)
Aku akan menjadi orang yang mempunyai hati indah
(Nameul meonjeo saenggakhaneun saram dwilkeyo)
Menjadi seseorang yang tanpa pamrih
(Eommaui sarangui baraemdeureul jikhyeogalkeyo)
Aku akan menjaga harapan cinta ibu
(Nawa kkumeul hamkke nanudeon nae meoril bitgyeojudeon eommaga saenggakna)
Ibu untuk berbagi impianku, menyisir rambutku, aku memikirkannya
(Ttaron jalmotdwin seonthaekdeullo aphahaetjiman amu mal eobsi dwieseo jikhyeobwa jusyeojyo)
Meskipun aku telah membuatnya sakit, pilihanku yang salah, dia diam-diam menngawasiku dari belakang
(Seothulgo eorin aijiman ijen al geot gathayo eommaui joyonghan gidoui wimireul)
Meskipun aku anak yang tak banyak tau, tetapi sekarang aku tau makna do’a-do’a ibu dalam diam
(Maeumi yeppeun sarami dwilkeyo)
Aku akan menjadi orang yang mempunyai hati indah
(Nameul meonjeo saenggakhaneun saram dwilkeyo)
Menjadi seseorang yang tanpa pamrih
(Eommaui sarangui baraemdeureul jikhyeogalkeyo)
Aku akan menjaga harapan cinta ibu
(Nawa kkumeul hamkke nanudeon nae meoril bitgyeojudeon eommaga saenggakna)
Ibu untuk berbagi impianku, menyisir rambutku, aku memikirkannya
(Eotteohkehajyo ajik jageun nae mami)
Apa yang harus kulakukan? Hatiku masih kecil
(Eommaui soneul noheumyeon honja jalhal su isseulji)
Jika aku melepaskan tangan ibu, apakah aku akan baik-baik saja jika sendiri?
(Ajik bujokhan geot gatha nan duryeoun georyo)
Aku takut, aku berpikir aku masih banyak kekurangan
(Jiheroun eommaui ttal dwilkeyo naege yonggireul jweo)
Aku akan menjadi putri yang bijaksana dari ibuku. Beri aku kekuatan
(Eodilgado jarangseureon ttari dwilkeyo)
Kemanapun aku pergi, aku akan menjadi putri yang terpuji
  same as above
(Eommaui sarangui baraemdeureul jikhyeogalkeyo same as above)
Aku akan menjaga harapan cinta ibu, sama seperti di atas
(Haneobsi boyeojun sarangmankheum ttaseuhan mameul gajilkeyo)
Aku akan memiliki hati yang hangat seperti cinta tanpa batas yang telah ditunjukkan
(Sujuppeo jaju phyohyeon mothatjyo)
Aku pemalu dan sering tak bisa mengekspresikan
(Eomma jeongmallo saranghaeyo)
Ibu aku benar-benar mencintaimu
12
Mei

Perkenankanlah Aku Mencintai-Mu Semampuku

Puisi ini adalah karya dari A.Musthafa Bisri. Mengutip dari sebuah buku yang ditulis oleh Azimah Rahayu, salah satu penulis FLP favoritku dalam serial Catatan Seorang Ukhti 7 yang berjudul Hari Ini Aku Makin Cantik. Berikut adalah puisinya, yang belakangan ini sangat menginspirasiku.

Perkenankanlah Aku Mencintai-Mu Semampuku

Tuhanku,
Aku masih ingat saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu, kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealism yang mengawang di awan
            Tapi Rabbi, berbilang detik, menit, jam, hari, pecan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
            Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
            Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
            Aku masih merasakan gelisahku membadai
            Dalam cinta yang mengawang
            Sedang kakiku mengambang, tiada mengijak bumi
            Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan
Wahai Ilalhi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hatri, pekan, bulan, dan tahun berlalu.
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon, dan menghiba-Mu
Allahu Rahim, Illahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu, semampuku
Allahu Rahim, Illahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu, sebisaku
Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthafa
Karena itu izinkan aku mencintai-mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batrin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabbi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar,
yang menyedehkahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu dan Rasul-Mu
bagi pribadi dan keluaraganya
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo hartnya demi jihad
Atau Utsman  yang mnyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan Din-Mu
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil
Di perempatan jalan
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojoook jembatan
Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu dengan khusyuknya shalat
Salah seorang sahabat Rasul-mu,
Hingga tak hirau dia pada anak panah musuh yang terhujam di kakinya
Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu
Dalam sholat yang kudirikan terbata-bata
Meski ingatan kadang ingatan melayang ke berbagai permasalahan dunia
Rabbi,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib
Yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu
Maka izinkanlah aku untuk mencintai-Mu
Dalam satu dua rakaat lailku
Dalam satu dua sunnah nafilahmu
Dalam desah napas kepasrahan tidurku
Yaa, Maha Rahman
Aku tak sanggup mencintaimu bagai para Al-Hafidz dan Hafidzah
Yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam
Maka perkenankanlah aku menintai-Mu semampuku
Melalui selembar dua lembar tilawah harianku
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku
Yaa Rahim
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah
Yang memersembahkan jiwanya demi tegaknya Din-Mu
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihad bagi-Mu
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru
Allahu Karim
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya
Bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya
Dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya
Maka izinkanlah aku menintai-Mu segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku
Dengan mencintai sahabat-sahabatku
Dengan mencintai manusia dan alam semesta
Allahu Rahmanurrahiim, Illahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Agar cinta itu mengalun dalam jiwaku
Agar cinta itu mengalir di sepanjang nadiku
Indah bukan puisinya? Sahabat, cinta yang paling agung adalah hanya kepada-Nya. Namun, kita masih belum bisa menjadikan-Nya yang paling agung di hati ini. Sahabat, padahal Dialah yang menyayangi kita di sepanjang darah ini mengalir, di setiap hembusan nafas kita, Dia selalu ada menmani dan memberikan nikmat-nikmat yang tak pernah lekang. Subhanallah, Allahu Akbar Walillahilham. Semoga Allah masih member kita kesempatan untuk tetap menambah dan menambal cinta kita kepada-Nya. Yang senantiasa dalam naungan-Nya. Amiinnn Yaa rabbal alamiin..
Menghargai itu adalah salah satu cara agar kita juga dihargai oleh sahabat yang lain. Jadi, hargai tulisanku ini dengan komentarmu yaa kawan. Aku menunggunya.
Wassalammm..